Membuka Jalur Pelabuhan Internasional di Selat Makassar

Sejak dulu, Nusantara selalu menjadi tempat singgah bagi saudagar-saudagar asing yang ingin melanjutkan perjalanannya menuju China, India, atau kota-kota dagang lainnya. Pada masa itu, Selat Malaka memiliki peran yang sangat penting dalam pelayaran. Ia merupakan pembuluh nadi bagi perdagangan kala itu, bahkan hingga saat ini. Namun, kini Selat Malaka tidak lagi mampu menopang seluruh kegiatan perdagangan di jalur tersebut. Mengapa? Selat Malaka sudah tidak lagi aman. Banyak perompak yang menghadang kapal-kapal dagang yang berlayar di sepanjang Selat Malaka. Selain itu juga aktifitasnya yang semakin padat membuat banyak kapal antre memadati pelabuhan.

Melihat fenomena ini, mengapa kita tidak memikirkan alternatif pelabuhan (transit) internasional di Indonesia? Jika kita berani membuka jalur pelabuhan tersebut, tentu banyak sekali keuntungan yang dapat kita peroleh. Terutama di tengah-tengah krisis global. Dengan dibukanya jalur pelabuhan tersebut, tentu saja akan menambah pemasukan devisa bagi bangsa Indonesia. Dua sumber devisa negara terbesar, yaitu migas dan TKI memiliki kendala. Komoditas migas merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, atau setidaknya sulit diperbarui (hard to be renewed). Sementara, pemasukan devisa yang diterima negara dari TKI mengalami penurunan tajam. Pemasukan negara yang diterima dari TKI yang bekerja di luar negeri selama tahun 2003 hingga awal tahun 2008 sebesar 167 trilliun rupiah. Sedangkan hingga akhir tahun 2008 ini tercatat menjadi 111 trilliun rupiah. Berkurang sebesar 56 trilliun rupiah dalam waktu satu tahun (data dari bank sentral Indonesia, Metro TV, 23 Desember 2008).

Jalur pelayaran Selat Makassar bisa menjadi alternatifnya. Dalam seminar purna tugas Yahya A. Muhaimin (dosen jurusan Hubungan Internasional, UGM; atase pendidikan di Amerika Serikat dan menteri pendidikan era Gus Dur), seorang professor dari Koream Selatan, Professor Yang, menyampaikan tawarannya secara lngsung untuk dibukanya jalur pelabuhan internasional di Selat Makassar (seminar purna tugas Yahya A. Muhaimin, di University Club, Universitas Gadjah Mada, Kamis, 11 Desember 2008). Jika dilihat, memang posisi Selat Makassar seperti pintu gerbang/gate way Indonesia (yang tidak bersinggungan lansung dengan “negara tetangga”). Selain itu, kedalaman Selat Makassar juga lebih besar daripada Selat Malaka.

Prospek Keuntungan
Jelas banyak sekali keuntungan yang bisa diperoleh dengan dibukanya jalur pelabuhan ini, khususnya bagi sumber ekonomi nasional.

Dengan melihat fenomena liberalisasi perdagangan (pasar bebas), seperti yang telah sering menjadi isu, pajak bea cukai akan ditiadakan. Namun, jika seandainya hal ini benar-benar disepakati, Indonesia akan tetap memiliki keuntungan dengan dibukanya jalur pelabuhan ini. Karena merupakan pelabuhan transit internasional, tentu ada biaya masuk bagi kapal-kapal asing yang akan singgah serta bongkar muat barang di pelabuhan. Hal ini juga akan menimbulkan imbas keuntungan di lingkungan sekitar pelabuhan (efek domino). Tetapi jika pajak bea cukai tidak dihapuskan (hanya direndahkan), tentu pemasukan akan bertambah.

Kedua, dengan dibukanya pelabuhan internasional di Selat Makassar, maka tentu saja akan menyerap banyak tenaga kerja, lebih-lebih lagi di tengah fenomena krisis global yang banyak “merumahkan” para karyawan. Selain itu juga terbukanya kesempatan bagi para sarjana untuk menerapkan ilmunya. Seperti yang telah kita ketahui selama ini, banyak sarjana yang menganggur dan tidak bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Ketiga, dapat meningkatkan jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia. Karena dengan dibukanya jalur pelabuhan tersebut, semakin banyak warga dunia yang tahu dan mengenal Indonesia, terutama keindahan alam dan kekayaan budayanya. Dengan begitu, juga mendorong tumbuh kembang usaha-usaha pariwisata serta meningkatkan pasar penjualan produk-produk kerajinan lokal. Baik di dalam, maupun ke luar negeri (eksport).

Serta dapat merangsang peningkatan kualitas dan produktivitas produk-produk industri dalam negeri, hingga mampu bersaing dengan produk-produk global yang dapat masuk dengan bebas.
Dibukanya jalur pelabuhan internasional di Indonesia juga dapat meningkatkan arus informasi dan teknologi yang masuk (efek dari globalisasi), sehingga sangat penting untuk memajukan kualitas pendidikan bangsa Indonesia. Serta sangat tidak menutup kemungkinan meningkatnya investasi dari investor-investor asing.

Dibukanya jalur pelabuhan (transit) internasional di Indonesia, khususnya Selat Makassar, jelas membawa prospek bagi bangsa Indonesia. Tugas pemerintahlah untuk menyiapkan segala persiapan (terutama infrastruktur serta regulasi) dan menganalisis dengan teliti hal-hal yang harus diantisipasi.

Annisa Mardiana Dewi
Mahasiswi Hubungan Internasional
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s