¬Perang Russia-Georgia di Tahun 2008: Pandangan tentang Perang dan Dampaknya Bagi Politik Luar Negeri Russia

Perang Rusia-Georgia di tahun 2008 merupakan fenomena konflik yang paling mutakhir di kawasan Kaukasus. Rusia sebagai sebuah negara besar di kawasan Kaukasus jarang terlibat perang, terutama setelah berakhirnya era Perang Dingin di tahun 1990-an. Meskipun dahulunya Rusia (USSR) sering memiliki pergesekan-pergesekan dengan negara-negara di sekitar wilayah Kaukasus, namun sebuah perang jarang terjadi. Apalagi setelah masa Perang Dingin. Hal ini dianggap sebagai masalah The Frozen Conflict di kawasan Kaukasus. Di mana Rusia sering dianggap sebagai kekuatan yang berusaha untuk menaklukkan wilayah-wilayah yang ada di sekitarnya. Namun sebenarnya masalah keamanan dalam negeri Rusia juga menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya perang. Permasalahan perang ini juga dipengaruhi oleh adanya external identity yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Sehingga tindakan yang mereka lakukan juga dikaitkan dengan external identity yang mereka miliki di mata dunia internasional. Meskipun belum tentu tindakan yang mereka lakukan tersebut berdasarkan “identitas” yang melekat pada diri mereka, namun kadang-kadang hal tersebut menjadi penilaian terhadap sikap yang mereka lakukan di dalam perang tersebut.

            Rusia sendiri memiliki citra sebagai “imperialis”[1] dan kadang-kadang terlihat seperti ekspansionis terhadap wilayah-wilayah di sekitarnya (terutama di sekitar wilayah Kaukasus). Meskipun seandainya yang dilakukan oleh Rusia bukan dengan maksud “imperialisme” namun apa yang ia lakukan pada Perang di tahun 2008 tersebut justru bisa menguatkan anggapan terhadap citra yang melekat. Sementara Georgia sendiri juga memiliki external identity atau citra dalam permasalahan ini. Georgia dipandang sebagai sebuah negara yang “tidak teratur” di mata internasional. Ghia Nodia (1995) menulis mengenai identitas nasional Georgia, “… Georgia is lack of interest in solutions to economic or other mundane problems, its disregard for political reality and attachment to historical revivalism and fantasies regarding ‘international law’…”. [2] Georgia juga dianggap “tidak tahu berterimakasih” atas protektorat yang sempat diberikan oleh Rusia[3]. Permasalahan yang ada di antara keduanya pada awalnya mungkin dipicu oleh masalah mispersepsi yang kemudian merembet menjadi masalah sentimental.

            Rusia yang pada awalnya hanya fokus pada masalah preventive strike terhadap ancaman terrorisme Chechnya dengan menempatkan basis militernya di Georgia, kemudian menjadi “memfasilitasi” kemerdekaan Ossetia Selatan dan wilayah Abkhazia dengan memberikan passport Rusia. Permasalahan ini yang pada akhirnya berujung pada Perang, pada mulanya dipicu dari perspektif negatif satu sama lain terhadap citra luar (external identity) yang dimiliki masing-masing. Permasalahan Perang ini tentunya juga menyulitkan bagi Rusia, khususnya bagi hubungan Rusia dengan Barat, terutama AS. Karena Georgia memperoleh “fasilitas” dari AS sebagai patron.  

            Tulisan ini akan ­membahas mengenai Perang Georgia-Rusia pada bulan Agustus tahun 2008, hubungan kedua negara sebelum terjadinya ekskalasi, pandangan terhadap Perang tersebut dan dampak dari perang tersebut bagi Rusia, terutama bagi politik luar negerinya, khususnya bagi hubungan Rusia dengan AS dan Barat. Pandangan yang dapat digunakan terhadap Perang ini dapat dilihat melalui pandangan konstruktivisme dan realism, namun dalam tulisan ini akan lebih dibahas mengenai pandangan realism mengenai kedudukan Rusia di dalam Perang ini.

 

Perang “Lima Hari” Rusia-Georgia

            Perang Rusia Georgia mencapai puncak ekskalasinya di tahun 2008 pada bulan Mei. Peristiwa ini dikenal dengan Perang Lima Hari yang terjadi pada tanggal 8 Agustus sampai tanggal 12 Agustus 2008[4]. Pada tanggal 7 Agustus dini hari, artileri Georgia mulai bergerak ke perbatasan antara Georgia dengan Ossetia Selatan. Serangan astileri pertama diberikan sebagai sebuah peringatan agar warga sipil segera menyingkir dari wilayah Ossetia Selatan. Peringatan ini diluncurkan sebelum Georgia menembakkan serangan utamanya ke wilayah Ossetia Selatan. Setengah jam kemudian, pasukan Georgia memulai pengeboman artileri besar dengan bombardier mencapai ketinggian di sekitar wilayah kota Tskhinvali, ibu kota Ossetia Selatan dan beberapa desa di sekitarnya. Artileri Georgia menggunakan 27 peluncur roket (rocket launchers), termasuk misil balistik 21,BM-21 160 unit LAR. Pasukan Georgia juga menggunakan senjata self-propelledberat 152 mmserta bom-bom cluster. OSCE, organisasi keamanan Uni Eropa mencatat bahwa setidaknya tembakan jatuh di kota Tskhinvali setiap 15-20 detik sekali[5].

            Georgia menyatakan bahwa pihak Ossetia Selatan terlebih dahulu yang menyerang wilayah bagian Georgia[6]. Georgia sambil terus menembakkan serangan-serangan ke wilayah Ossetia Selatan terutama wilayah ibukota, Tskhinvali. Georgia sendiri mengerahkan sekitar 12.000 pasukannya ke wilayah perbatasan Ossetia Selatan untuk melakukan serangan dengan 75 tank yang bergerak di sekitar kota Gori. Pasukan Georgia bergerak dalam serangan-serangan artileri berat. Meskipun demikian, pengamat mengemukakan bahwa Tbilisi (Georgia)lah yang melakukan serangan terlebih dahulu ke wilayah Ossetia Selatan dengan serangan yang membabi buta terhadap wilayah yang ingin memerdekan diri dari Georgia tersebut[7]. Menurut Human Rights Watch Georgia sengaja melakukan seraangan tersebut dengan menggunakan target milisi separatis Ossetia Selatan dari serangan bombardir yang Georgia lakukan secara bertubi-tubi di sekitar wilayah Tskhinvali[8]. Serangan yang dilakukan oleh Georgia juga mengenai sekolah-sekolah serta tempat pelayanan kesehatan.

            Pada tanggal 8 Agustus pagi Georgia masih terus melanjutkan serangan untuk mengepung kota Tskhinvali. Mereka menamakan serangan tersebut sebagai Operation Clear Field sebagai upaya untuk “membersihkan” para milisi separatis Georgia. Sementara Georgia sendiri yang selama ini selalu merasa gerah dengan kehadiran “pasukan perdamaian” Rusia di wilayah Georgia. Rusia melaporkan bahwa pasukan Georgia telah menewaskan sepuluh anggota pasukan perdamaian Rusia[9]. Pasukan perdamaian Rusia (peacekeepers) pada mulanya ditempatkan di Georgia oleh pemerintah Rusia untuk melakukan preventive strike terhadap terroris Chechnya. Pemerintah Rusia sendiri sebenarnya berusaha “mengakuisisi” wilayah Ossetia Selatan dan Abkhazia yang pernah menjadi wilayah bagian Georgia. Wilayah Ossetia Selatan sendiri cenderung ingin menggabungkan diri dengan pemerintahan Rusia yang selama ini telah banyak memprotektorat Ossetia Selatan.

            Maka atas serangan yang telah dilakukan oleh Georgia terhadap pasukan perdamaiannya dan atas perlakuan yang diberikan kepada wilayah Ossetia Selatan, Rusia melakukan serangan balasan kepada Georgia. Pada tanggal 8 Agustus, Rusia merespon serangan Georgia dengan menyeberangi wilayah Georgia melalui Terowongan Roki menuju Ossetia Selatan. Serangan balasan yang dilakukan oleh Rusia inilah yang kemudian menjadi boomerang sendiri bagi Rusia. Serangan balasan yang dilakukan oleh Rusia dalam skala yang jauh lebih besar dari serangan yang dilakukan oleh Georgia terhadap Ossetia Selatan. Rusia mengerahkan beberapa battalion bersenjata dari pasukannya, pasukan udara dan laut, mengalahkan dan merusak banyak persenjataan militer Georgia.

            Keadaan mencapai titik baliknya pada tanggal 10 Agustus 2008. Ketika pasukan Rusia dan Ossetia Selatan disokong sepenuhnya oleh pasukan dari Kremlin melalui Terowongan Roki, melakukan serangan balasan besar-besaran terhadap Georgia. Bagian utama dari artileri Georgia berhasil dikalahkan. Namun pada tanggal 11 Agustus Georgia sempat melakukan serangan balasan dengan menggunakan serangan udara dari Pasukan Udara Georgia. Menyerang pasukan-pasukan Rusia. Namun meskipun demikian serangan-serangan yang dilakukan oleh Georgia berhasil dilumpuhkan oleh Rusia pada akhir dari Perang tersebut. Posisi Rusia dalam hal ini mungkin menjadi tidak diuntungkan karena ia melakukan serangan balasan seperti melakukan serangan “bumi hangus” kepada pasukan Georgia.

 

Hubungan Rusia-Georgia sebelum Ekskalasi Perang

            Sebelum mencapai ekskalasi hubungan Rusia dengan Georgia memang sering bersitegang. Hal ini dikarenakan pada masalah yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa sering terjadi mispersepsi (terutama dari pihak Georgia) terhadap citra luar satu sama lain. Pada awal mula merdekanya Georgia, Rusia masih sering menjadi protektorat ataupun pelindung bagi wilayah negara ini yang dulunya berada di dalam kesatuan wilayah Rusia. Demikian pulalah yang masih sering dilakukan oleh Rusia kepada Ossetia Selatan dan Abkhazia. Kedua wilayah yang berusaha untuk melepaskan diri dari wilayah Georgia.

            Pemerintah Rusia di Kremlin menempatkan pasukan perdamaian Rusia di Georgia. Pemerintah Rusia menggunakan wilayah Georgia sebagai sebuah basis militer untuk melakukan preventive strike terhadap ancaman terrorisme Chechnya. Namun pemerintah Georgia sering merasa gerah dengan kehadiran basis militer Rusia di kawasan mereka walaupun telah melalui sebuah persetujuan. Basis militer Rusia yang ada di Georgia seharusnya beroperasi bahkan setelah pecahnya Perang ini. Namun pemerintah Georgia selalu mendesak Kremlin untuk segera memindahkan pasukan mereka dan basis militer yang mereka miliki dari Georgia. Sementara Georgia sendiri membangun proyek saluran pipa dengan Chechnya melewati wilayah Rusia. Hal ini tentu saja membuat Kremlin merasa geram.

            Sebelum Perang pecah di tahun 2008, setidaknya ada tiga tahapan hubungan antara Rusia dengan Georgia. Dalam masalah ini, hubungan yang ada di dalam setiap tahapan lebih banya “dirusak” oleh pihak Georgia sendiri. Tahapan dalam hubungan Rusia-Georgia terdiri atas tahapan kerjasama, passive containment dan active containment sebelum akhirnya terjadi konfrontasi pada tahun 2008.

            Tahap pertama, yaitu tahap kerjasama berlangsung mulai tahun 2003 hingga Oktober 2004. Pada masa ini pemerintah Rusia berupaya untuk menjalin hubungan baik dengan pemerintahan Georgia. Salah satunya adalah dengan asistensi pemilu yang sempat mengalami krisis setelah Presiden Georgia yang sebelumnya Eduard Shevardnadze lengser. Krisis ini dikenal dengan sebutan krisis Adjara. Dengan asistensi ini, maka pemilu di Georgia dapat berhasil dan terpilihlah Mikhail Saakhasvili sebagai Presiden berikutnya. Di awal kepemimpinannya Saakashvili lebih cenderung kooperatif dengan pemerintah Rusia dibandingkan dengan pendahulunya, Shevardnadze. Terutama mengenai masalah terrorisme. Saakashvili mengakui bahwa ada kelompok milisi terorisme yang bersembunyi di wilayah Georgia. Saakashvili berjanji bahwa Georgia akan membersihkan terorisme tersebut dari wilayah Georgia. Maka pemerintah Rusia pun menempatkan basis militernya dengan “pasukan perdamaian” dari Kremlin untuk mencegah teroris tersebut bisa memasuki wilayah Rusia. Georgia sering dianggap sebagai tempat melintas teroris dari Chechnya masuk ke wilayah Rusia. Maka menanggapi niatan baik Saakashvili pula, Rusia melakukan ikatan kerjasama dengan Georgia untuk meningkatkan perekonomian mereka. Dalam masa ini juga dibuat proposal kerjasama antara kedua negara.

            Memasuki tahapan yang kedua, yaitu Passive Containtment. Pemerintah Rusia dan Georgia memperbarui perjanjian kerjasama mereka untuk menumpas teroris Pankisi Gorge. Mulai pada tahap ini pemerintah Georgia mulai meminta pasukan pada basis militer Rusia untuk “dikurangi”. Rusia menanggapinya dengan netral, meskipun sebenarnya belum tiba waktunya untuk penarikan pasukan. Namun pemerintah Rusia menganggap hal ini sebagai sebuah proses, keamanan wilayah Rusia mulai membaik. Juga sempat disepakati mengenai pelarangan penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan masalah-masalah territorial. Pada masa ini Rusia juga mengasistensi Georgia terkait masalah independensi Abkhazia dan Ossetia Selatan. Putin mengaitkannya dengan Kossovo yang berhasil memerdekakan diri dari Rusia.

            Pada tahap ketiga dimulailah Active Containment. Georgia berniat untuk bergabung ke dalam NATIO. Pelan-pelan situasi mulai memanas. Saluran pipa gas Georgia dengan Chechnya yang melintasi wilayah Rusia sempat meledak. Hal ini mengakibatkan melonjaknya harga minyak terutama di sekitar wilayah Kaukasus. Keadaan menjadi bertambah panas. Rusia melakukan sanksi bepergian (travel) dan ekonomi bagi Rusia. Hal ini juga berkaitan dengan permasalahan Abkhazia dan Ossetia Selatan. Hubungan terus berlanjut dengan adanya keretakan permasalahan imigrasi di antara kedua negara. Hingga pada akhirnya “pemanggilan pulang” duta besar masing-masing dari wilayah Georgia dan Rusia.

Rusia mendukung Ossetia Selatan untuk melepaskan diri dari Georgia. Rusia bahkan sempat memperbaiki jalan tol di wilayah Abkhazia. Hal ini dilakukan untuk memprovokasi “penghinaan” terhadap Georgia. Sebelumnya Abkhazia merupakan wilayah yang dikucilkan oleh Georgia pasca pelepasan dirinya dari Georgia di tahun 1992. Pada bulan April 2008, Ossetia Selatan menempatkan etnis Rusia di wilayahnya untuk menduduki jabatan sebagai Perdana Menteri serta Menteri Keamanan dan Pertahanan[10]. Abkhazia dan Ossetia Selatan sendiri ingin memerdekakan (melepaskan) diri dari Georgia dan bergabung dengan Rusia.

 

Pandangan Mengenai Perang

            Pandangan mengenai Perang Rusia-Georgia ini dilihat melalui perspektif Realisme yang menekankan pada Power, Security dan Honor. Perspektif Realisme yang digunakan dalam masalah ini menggunakan dua pandangan Realisme, yaitu Realisme Offensif dan Realisme Defensif dari sudut pandang Rusia. Dalam mengamati kejadian ini dilihat melalui empat indicator, yaitu

1.) Permintaan untuk tidak menggunakan kekerasan satu sama lain pada masa-masa sebelum perang

2.) Penggunaan kekerasan pada tanggal 8 Agustus 2008

3.) Tidak ada tindakan lanjutan terhadap Tbilisi

4.) Pengakuan Ossetia Selatan dan Abkhazia.

Menurut pandangan Realisme Ofensif, permintaan untuk tidak menggunakan kekerasan satu sama lain pada masa-masa sebelum perang menunjukkan adanya kelemahan material (material weakness). Sementara penggunaan kekerasan pada tanggal 8 Agustus 2008 dianggap sebagai tujuan Power, dan setelah Perang tersebut tidak ada tindakan lanjutan terhadap Tbilisi dianggap sebagai kekhawatiran atas retaliasi militer. Pengakuan Ossetia Selatan dan Abkhazia dianggap sebagai kesempatan untuk meningkatkan Power.

            Sementara itu berbeda dengan pandangan Realisme Defensif. Menurut pandangan Realisme Defensif, permintaan untuk tidak menggunakan kekerasan satu sama lain pada masa-masa sebelum perang disebabkan karena kekhawatiran terhadap ekskalasi. Penggunaan kekerasan pada tanggal 8 Agustus 2008 dianggap sebagai tujuan Keamanan, dan setelah Perang tersebut tidak ada tindakan lanjutan terhadap Tbilisi dianggap sebagai limited objectives. Sementara itu pengakuan terhadap Ossetia Selatan dan Abkhazia menurut Realisme Defensif dianggap sebagai permasalahan mispersepsi. Permasalahan Rusia adalah di posisi Realisme Defensive ini[11].

 

Dampak Perang Georgia Tahun 2008 Terhadap Politik Luar Negeri Rusia

Perang Russia-Georgia yang terjadi pada bulan Agustus 2008 telah membawa signifikansi tersendiri bagi Rusia. Posisi Georgia sendiri dalam hal ini diuntungkan karena ia memiliki Amerika Serikat sebagai patronnya. Posisi strategis Georgia sebagai tempat melintasnya  pasokan minyak dari Laut Kaspia untuk pasokan minyak ke Barat menjadikannya sebagai salah satu “aset” yang penting bagi Amerika Serikat. Serangan yang dilakukan oleh Rusia terhadap Georgia menjadikan Rusia sebagai pihak yang dinilai agresif, meskipun perang awalnya dipicu oleh tindakan Georgia yang menyerang Tskhinvali, ibukota Ossetia Selatan. Tindakan Rusia yang terlalu agresif dalam menyikapi tindakan Georgia tersebut membuat dirinya sendiri berada dalam masalah. Banyak pihak yang mengatakan bahwa dampak yang akan dirasakan oleh Russia mungkin bukan kerusakan infrastruktur ataupun korban yang berjatuhan dari warga negaranya, akan tetapi dampak yang mungkin akan dirasakan oleh Russia adalah dampak jangka panjang dalam konstelasi politik internasional, yang mana hal ini berarti merupakan ancaman bagi politik luar negeri Rusia. Akibat jangka panjang yang mungkin akan dirasakan oleh Rusia utamanya di bidang ekonomi dan kekuatan positional bargaining.

            Serangan yang dilakukan oleh Rusia terhadap Georgia dinilai oleh banyak pihak sebagai sebuah tindakan agresif Rusia[12]. Perang ini, seperti halnya daerah-daerah lain yang ada di wilayah Kaukasus, disebut-sebut sebagai The Frozen Conflict. Dengan Rusia sebagai tokoh utamanya. Hal ini berdasarkan latar belakang sejarah, bahwa Rusia selalu terlibat konflik dengan wilayah di sekitar wilayah Kaukasus sejak masa Ivan the Terrible, hingga Catherine the Great sebagai upaya mereka untuk menaklukkan wilayah di sekitar pegunungan Kaukasus[13]. Dengan adanya perang ini, maka dampak yang diterima oleh Rusia, Pertama, mengenai citra Rusia sendiri. Rusia tidak lagi dipandang sebagai An Honest Broker in Neighboring Countries. Rusia gagal dianggap sebagai impartial peacekeeper. Apa yang terjadi di Georgia menunjukkan bahwa Rusia berusaha untuk melindungi etnis Ossetia Selatan yang condong kearah Rusia (bukan etnis yang pro Georgia). Tindakan Rusia yang agresif ini juga dengan cepat memengaruhi keadaan di wilayah Abkhazia, yaitu wilayah yang dulunya memerdekakan diri dari Georgia dan memperoleh dukungan dari Rusia (sama halnya seperti Ossetia Selatan).

Perang ini juga dinilai sebagai Russia’s willingness to employ crude military force against a neighboring state[14]. A neighboring state dalam hal ini merujuk kepada Georgia. Namun, pada kenyataannya, Rusia juga memiliki frozen conflicts dengan neighboring states lainnya di daerah-daerah sekitarnya (Kaukasus, Asia Tengah dan Eropa Timur). Sehingga hal ini akan mengancam citra Rusia sendiri dalam Politik Internasional, karena dianggap sebagai sebuah negara yang agresif. Di sisi lain, konflik ini memperpanas kawasan kaukasus yang memang sudah menjadi masalah keamanan bagi Rusia. Dengan posisi Rusia yang semakin sulit di Kaukasus maka potensi ancaman terhadap keamanan Rusia di Kaukasus akan semakin besar. Sedangkan di sisi lain kaukasus merupakan wilayah penting bagi Rusia sebagai buffer zone[15] yang menjaga Rusia dari arah Timur Tengah.

            Kedua, selama dua tahun terakhir sebelum pecahnya Perang di tahun 2008, Russia telah mengungkapkan ketertarikannya untuk membangun kerjasama dan integrasi dengan “institusi-institusi Barat” (Western Institutions). Seperti WTO ataupun OESC (European Security and Cooperation). Sekarang, dengan adanya Perang tersebut maka meregangkan kembali hubungan Rusia dengan Barat. Karena posisi Georgia sendiri merupakan sekutu dekat Amerika Serikat. Ia juga lebih dekat kepada Uni Eropa, OESC bahkan NATO. Dengan tindakan yang dilakukan oleh Rusia nampaknya sulit untuk menjalin hubungan tersebut kembali.

            Ketiga, serangan yang telah dilakukan oleh Rusia tidak hanya membawa dampak buruk bagi hubungan kedua negara, tetapi juga kawasan, hubungan organisasi internasional, juga di dalam tubuh PBB sendiri. Rusia yang juga termasuk sebagai pemegang hak veto di Dewan Keamanan PBB akan berhadapan dengan Amerika Serikat yang juga termasuk sebagai pemegang hak veto di PBB. Sehingga hal ini akan semakin menyulitkan posisi Rusia. Sementara kedudukan Georgia sendiri akan semakin merapat kepada AS, Negara-negara anggota NATO, OESC bahkan Uni Eropa.

            Keempat, dengan keadaan Rusia yang ada sekarang, maka akan ‘melukai’ kepentingan jangka panjangnya dalam mengembangkan diri menjadi sebuah internationally respected power and successful modern economy[16]. Rusia juga terancam Potential Economic Fallout[17]. Setelah tindakan yang dilakukan terhadap Georgia hal tersebut membuat Rusia menjadi lahan investasi yang kurang menarik (less attractive investment destination). Sehubungan dengan hubungannya yang menegang dengan Barat.

Krisis yang diakibatkan dari adanya Perang antara Russia dengan Georgia membawa dampak tersendiri bagi Rusia berkaitan dengan penyelenggaran Winter Olympic Games 2014 di Sochi, wilayah Russia yang berbatasan denga Georgia. Event ini setidaknya harus memiliki peranan untuk mendorong upaya damai atas ketegangan Russia dengan Georgia. Mengingat acara tersebut merupakan agenda besar dunia. Yang mungkin saja terancam atau bahkan diboikot, mengingat lokasinya yang merupakan wilayah konflik yang belum settle dan dapat dikatakan rapuh.

 

 

           

 

           

 

 

 

Daftar Pustaka

Jos Bonstra. Georgia and Russia: A Short War With A Long AftermathMadrid: . FRIDE.,2008.

Svante E. Cornell. Russia’s War in Georgia: Causes and Implications for Georgia and the World. Policy Paper. August 2008.  Central Asia-Caucasus Institute. Silk Road Studies Program. Singapore: 2008.

Tsygankov, Andrei. & Tarver-Wahlquist, Matthew. (2009). Duelling Honors: Power, Identity and the Russia-Georgia Divide. Foreign Policy Analysis, 5. Hal. 308.

 

 

Referensi Online

 

International Crisis Group, . “RUSSIA VS GEORGIA: THE FALLOUT.” International Crisis Group Europe Report.195 (2008): n. pag. Web. 26 Nov 2010. <http://www.crisisgroup.org/~/media/Files/europe/195_russia_vs_georgia___the_fallout.ashx&gt;

The Economist, Georgia dan Rusia, Perang Meletus di Georgia, 2008. <www.economist.com/node/11909324%3Fstory_id%3D11909324>.

WIKIPEDIA, The Free Encyclopedia, 2008 South Ossetia War, 2011, <http://en.wikipedia.org/wiki/2008_South_Ossetia_war#cite_note-sundaytimes-20081109-149>.

 


[1] Geoffrey Hosking menulis di dalam “Britain had an empire, but Russia was an empire” (Zeelev 2001,15).

[2] Tsygankov, Andrei. & Tarver-Wahlquist, Matthew. (2009). Duelling Honors: Power, Identity and the Russia-Georgia Divide. Foreign Policy Analysis, 5. Hal. 308.

[3] Ibid.

[4] The Economist, Georgia dan Rusia, Perang Meletus di Georgia, 2008, <www.economist.com/node/11909324%3Fstory_id%3D11909324>, 13 Januari 2011.

[5] WIKIPEDIA, The Free Encyclopedia, 2008 South Ossetia War, 2011, <http://en.wikipedia.org/wiki/2008_South_Ossetia_war#cite_note-sundaytimes-20081109-149>, 13 Januari 2011.

[6]  Tsygankov, Andrei. & Tarver-Wahlquist, Matthew. Foreign Policy Analysis, 5. Hal. 313.

[7] Tsygankov, Andrei. & Tarver-Wahlquist, Matthew. Foreign Policy Analysis, 5. Hal. 313.

 

[8] WIKIPEDIA, The Free Encyclopedia, 2008 South Ossetia War, 2011.

[9] Tsygankov, Andrei. & Tarver-Wahlquist, Matthew. Foreign Policy Analysis, 5. Hal. 313.

[10] Tsygankov, Andrei. & Tarver-Wahlquist, Matthew. Foreign Policy Analysis, 5. Hal. 314.

[11] Tsygankov, Andrei. & Tarver-Wahlquist, Matthew. (2009). Duelling Honors: Power, Identity and the Russia-Georgia Divide. Foreign Policy Analysis, 5.

[12] International Crisis Group, . “RUSSIA VS GEORGIA: THE FALLOUT.” International Crisis Group Europe Report.195 (2008): n. pag. Web. 26 Nov 2010. <http://www.crisisgroup.org/~/media/Files/europe/195_russia_vs_georgia___the_fallout.ashx&gt;

 

[13] Jos Bonstra. Georgia and Russia: A Short War With A Long AftermathMadrid: . FRIDE.,2008.

[14] Svante E. Cornell. Russia’s War in Georgia: Causes and Implications for Georgia and the World. Policy Paper. August 2008.  Central Asia-Caucasus Institute. Silk Road Studies Program. Singapore: 2008.

[15] Buffer Zone adalah wilayah yang membatasi dua wilayah yang berkonflik atau bertujuan mencegah dua wilayah dari konflik. Buffer zone biasanya berupa tanah kososng tapi pada perkembangannya buffer zone bisa berupa sebuah negara.

[16] Jos Bonstra. Op Cit.

[17] International Crisis Group. Op Cit

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s