Dilemma Kapasitas dalam Strategi Ilmu Hubungan Internasional

Di dalam buku Getting Your Way, karangan Jasper, terdapat banyak sekali model dilemma. Pada bab 4 mengenai Kapasitas, terdapat berbagai macam dilemma yang dihadapi oleh seorang pemain terkait dengan kapasitasnya, baik itu menyangkut intelegensia, reputasi, bahkan kapasitas di dalam organisasi. Di sini saya memilih tiga konsep dilemma yang berkaitan dengan kapasitas berkaitan dengan pengalaman pribadi saya (mungkin nanti saya sedikit sharing).

  1. 1.      Go-Sanjō’s Dilemma

Ketika saya membaca mengenai Go-Sanjō’s Dilemma, saya langsung teringat bahwa saya memiliki pengalaman pribadi yang masih saya rasakan sampai sekarang. Saya aktif dalam sebuah organisasi kampus. Di dalam organisasi tersebut, saya sudah terlibat sejak pertama kali masuk di semester pertama. Saya bersama teman-teman saya di satu angkatan. Kebetulan organisasi tersebut sangat mengepentingkan eksistensi angkatan karena nantinya akan berkaitan dengan regenerasi kepengurusan. Seiring waktu berjalan, entah mengapa tinggal saya yang tersisa dari angkatan saya sejak pertama kali terlibat dalam organisasi pada semester pertama. Akhirnya dicarilah pengganti untuk mengganti semua kekosongan teman-teman saya tersebut. Otomatis bisa dikatakan sayalah yang paling berpangalaman di dalam organisasi tersebut di antara teman-teman saya yang ada pada waktu itu. Setelah masa kepengurusan yang dulu berakhir, tibalah masa kepemimpinan yang harus dipegang oleh angkatan kami. Pada saat pemilihan ketua, saya sempat dipertimbangkan untuk menjadi ketua pada kepemimpinan generasi kami. Karena melihat saya yang paling memahami organisasi tersebut di antara teman-teman saya yang lainnya. Namun saya tidak terpilih menjadi ketua pada regenerasi organisasi tersebut hanya karena saya perempuan (yang saya melihat di dalam organisasi tersebut sangat patriarkal sekali). Akhirnya saya harus merelakan jabatan ketua dipegang oleh pria diantara kami, yang dia baru saja masuk sekitar 4 atau 5 bulan. Namun, hampir sama seperti yang dihadapi Go-Santō, meskipun saya bukan ketua dari organisasi tersebut, namun saya yang paling banyak “menahkodai” gerak dari organisasi tersebut. Saya masih merasa sangat dilematis berkaitan dengan hal tersebut.

  1. 2.      The Charm Dilemma

Kedua, yang merupakan The Charm Dilemma. Ini merupakan dilemma yang sempat saya hadapi selama dua tahun pada saat saya pertama ada di Jogja. Saya merasa semua yang ada di sekitar saya pada waktu itu adalah hal yang baru. Tinggal di lingkungan yang sama sekali baru, bertemu dan tinggal bersama di rumah kost-an dengan orang-orang yang baru, termasuk tiba di kampus dengan bertemu orang-orang yang baru, dengan latar budaya yang semuanya berbeda-beda. Pokoknya semuanya serba baru. Kemudian saya mulai menjalankan The Charming Strategic, untuk membuat orang-orang yang ada di sekeliling saya senang (pleasant) terhadap saya. Di satu sisi saya berhasil membuat orang-orang merasa senang kepada saya dan menganggap saya baik. Tapi lama-kelamaan saya terperangkap dalam The Charm Dilemma yang membuat saya akhirnya berada dalam an ueasy feeling setiap harinya selama dua tahun tersebut. Sehingga kehilangan diri saya sendiri. Tentang apa yang sebenarnya saya butuhkan secara pribadi, dari sekedar hanya membuat orang lain senang.

  1. 3.      The Sincerity Dilemma

Dilemma yang terakhir, dan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan saya semasa kuliah dan setelah lulus dari SMA. Saya berasal dari Balikpapan, Kalimantan Timur. Dulunya ketika SMA saya sering mengikuti perlombaan bahkan hingga ke tingkat Nasional, misalnya kompetisi ALSA yang sering diadakan di Fakultas Hukum UI, ataupun event-event lainnya bahkan hingga ke tingkat Nasional. Di sekolah pun semua guru sangat menyayangi saya karena prestasi akademik yang saya miliki, juga prestasi non akademik saya yang bisa dibilang sangat bagus. Dulunya, saya sempat diterima di ITB 0 Rupiah untuk biaya masuknya, karena saya memilih jurusan Astronomi, yang tidak banyak orang menyukai jurusan tersebut. Tetapi saya justru sangat “ketagihan” dengan pelajaran tersebut. Saya juga bahkan sempat mendapatkan beasiswa masuk di universitas dimana Yohannes Surya mengajar di sana. Karena begitu banyaknya kelebihan-kelebihan yang saya miliki, saya menjadi rendah hati dan biasa-biasa saja. Sama halnya ketika saya pertama kali masuk di UGM, saya biasa-biasa saja. Bahkan kadang-kadang saya seolah “berpura-pura”. Tapi yang saya lihat waktu itu teman-teman saya nampak berlomba-lomba untuk mengejar itu semua, yang dimata saya waktu itu nampak sangat berlebihan. Namun, lama kelamaan saya nampak seperti kehilangan kesempatan. Bahkan teman-teman kadang nampak meremehkan saya. Padahal saya merasa, apa yang dulu saya sering dapatkan, tidak semua teman-teman saya pernah mendapatkannya. Ada satu kutipan yang sangat bagus untuk saya dari kata-kata Rochefoucauld, “The really astute pretend all through their lives to eschew intrigue in order to restort to it on some special occasion and for some great purpose”. Seandainya saya bisa menyadari itu sejak awal, mungkin saya sudah melompat jauh.

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s