Federalism and The New State in Russia

Bila kita membicarakan mengenai Federalisme dan Negara Baru di Rusia, maka jelas masalah etnislah yang menjadi penyebab utamanya. Ia menjadi bagian sejarah kelam dari sebuah negara yang amat besar dan kuat, setidaknya sampai dengan era Perang Dingin.

            Federalisme dan negara baru di Rusia tidak dapat terlepas dari sejarahnya di masa lalu, khususnya sejarah Eropa pada sekitar abad 19. Rusia pada waktu itu terkenal sebagai sebuah negara yang kuat. Pada waktu itu ia sempat beraliansi dengan PRusia dan Austria dalam Perang Eropa. Rusia dikenal sebagai negara yang kuat dalam bidang militernya. Ia menguasai hampir sebagian besar dataran Eropa. Daerah-daerah Eropa yang dikuasai oleh Rusia ini sendiri memiliki perbedaan yang nyata satu sama lain.

            Namun perbedaan ini jugalah yang membuat hancurnya USSR dari dalam. Sebagai sebuah kekuatan besar dalam era Perang Dingin melawan Amerika Serikat, kekuatan besar Rusia pelan-pelan meredup dari dalam. Sebagai sebuah negara yang kuat di terutama di bidang militer hingga Perang Dingin. Namun ternyata Rusia pelan-pelan hancur dari dalam. Bukan karena serangan nuklr dari Amerika Serikat. Bahkan imperium Napoleon sendiri pun tidak berhasil menjatuhkan kekuatan Rusia pada sejarah Benua Eropa. Meskipun dulunya Rusia sempat menorehkan namanya sebagai sebuah negara yang patut disegani, namun kini ia seakan tidak mendapatkan tempat di atas papan kekuatan politik dunia. Kejayaannya meredup, hal ini juga dikarenakan politik tirai besi yang dijalankan oleh pemerintahannya.

            Sebenarnya Federalisme sendiri merupakan sistem yang bagus untuk negara. Beberapa negara banyak yang menerapkannya, seperti Australia, Kanada, Jerman, Spanyol, Swiss dan Amerika Serikat. Ia banyak diadopsi untuk me-manage permasalahan etnis ataupun agama. Seperti yang ada di Belgia, Kanada, India, Malaysia, Nigeria, Spanyol dan Afrika Selatan. Banyak keuntungan yang dapat diberikan dari sebuah sistem yang bersifat Federal. Oleh karena itu ia seakan menjadi “fashion”  dalam sistem politik global. Diantaranya, ia mampu mengakomodasi kelompok-kelompok minoritas yang berbeda-beda di dalam sebuah negara. Federalisme memeberikan kelompok-kelompok minoritas tersebut yang berbeda agama, etnis, dan budaya sebuah landasan politik yang aman, dimana mereka juga bisa mendapatkan haknya untuk terlibat dalam mengatur kebijakan kultural dan pendidikan bagi kelompok mereka. Sehingga hal ini dapat mendorong pluralisme dalam sebuah negara dan juga sistem yang demokratis. Dengan Federalisme ini juga, daerah-daerah komponen Federasi dapat memperoleh keuntungan dengan adanya common defense. Tanpa perlu mengorbankan otonomi mereka secara penuh kepada pusat. Di samping faktor keamanan, keuntungan Federalisme sendiri juga dapat dilihat dari sisi ekonomi. Dimana negara-negara komponen sistem Federasi dapat menikmati keuntungan dari adanya common market. Tanpa perlu mengorbankan otonomi mereka. Federalisme merupakan dasar dari asumsi negosiasi dan renegosiasi yang bersifat kontinyu di dalam negara tersebut, sehingga ia mampu memberikan bentuk pemerintahan dapat diadaptasikan dan juga fleksibel (a highly adaptable and flexible form of government)[1].

            Namun di dalam sistem Federalisme Rusia sendiri nampaknya ada sesuatu yang dipaksakan. Arogansi dan keangkuhan serta chauvinism yang berlebihan telah membuat negara ini secara demografis lumpuh. Hal ini juga mungkin tidak terlepas dari adanya sejarah Glasnost dan Perestroika. Dimana masyarakat di daerah pinggiran mendapatkan perlakuan yang diskriminatif atau bahkan mungkin juga dapat dikatakan eksploitatif.

            Masyarakat yang tinggal di daerah pinggiran terdiri dari beragam etnis. Kebanyakan mereka merupakan etnis minoritas. Namun meskipun demikian mereka kaya dengan sumber pangan. Bahkan mereka dapat dikatakan sebagai lumbung pangan negara Soviet pada waktu itu. Ternak ayam, sapi, babi, kambing, domba bahkan hasil pertanian dan perkebunan. Namun nasib mereka terus dieksploitasi oleh lingkaran Manor. Akhirnya mereka tidak dapat terus menerus menerima perlakuan yang semena-mena dari pemerintah Soviet pada waktu itu. Kemudian di masa kepemimpinan Yeltsin—setelah gagalnya Glasnost dan Perestroika—maka pecahlah Uni Soviet (USSR) menjadi negara-negara kecil di sekitarnya, berupa Eropa Timur dan Asia Tengah yang dulunya tergabung dalam RSFSR dan etnik Kaukasus.

            Pecahnya Rusia ini sendiri sebenarnya sudah diperkirakan oleh Lenin. Lenin menganggap perpecahan ini sebagai bom waktu yang siap meledak kapanpun. Bahwa daerah-daerah pinggiran Rusia akan membebaskan diri mereka dari hegemoni (atau bahkan dominasi) kekuasaan Rusia. Hal ini sebenarnya sudah dapat diperkirakan ketika terjadi Revolusi Bolshevik di tahun 1917. Dimana kaum Bolshevik yang dipimpin oleh Lenin menarik massa sebanyak-banyaknya dari warga Rusia yang pada waktu itu masih berebentuk sistem Monarki. Permasalahan struktural sosial, ekonomi dan politik yang terjadi sebelum pecahnya Revolusi Bolshevik telah membuat rakyat merasa gerah dengan keberadaan pihak istana. Dimana pada waktu itu sedang berlangsung Perang Dunia I (1914-1918). Kekuatan Tsar Nicholas II dan pasukannya dalam menghadapi PD I semakin lemah. Karena mereka harus menghadapi aliansi-aliansi ditambah lagi kekacauan politik dalam negeri. Rakyat mengalami kelaparan dan kemiskinan karena hasil pertania yang ada pada waktu itu tidak mampu mencukupi kebutuhan pangan warga Rusia. Tsar Nicholas II sendiri tidak mampu menarik simpati massa sebagai kekuatan. Akibatnya berkobarlah revolusi Bolshevik yang mengambil alih pemerintahan selama hampir tujuh dasawarsa. Kaum Bolshevik menggunakan strategi dengan merangkul kelompok militer, mampu memenangkan dukungan rakyat, bahkan mereka memberikan janji-janji untuk kelompok di daerah pinggiran. Apabila mereka mau mendukung dan membantu kaum Bolshevik, maka mereka akan mendapatkan hak-hak self determination bagi wilayah mereka[2].

            Etnis Rusia sendiri merupakan etnis mayoritas dalam pemerintahan USSR. Jumlah populasi etnik Rusia dalam Federasi Rusia adalah sebesar 81.53% dari total populasi etnik yang tinggal di wilayah Rusia. Sedangkan etnik lain yang variannya lebih banyak dari etnik Russia, total seluruhnya hanya berjumlah sekitar 18.47% yang meliputi banyak sekali varian etnik, bahasa, budaya bahkan agama[3].

            Sebenarnya di era Lenin sendiri, yaitu pada masa pemerintahan kaum Bolshevik, bentuk negara Rusia telah dibuat dalam sistem yang berbentuk Federasi. Untuk mewadahi semua perbedaan yang ada di dalam negara tersebut. Namun dikatakan bahwa Federasi ini hanyalah Federasi semu. Kebanyakan rakyat dipaksa untuk menggunakan bahasa Russia dan tidak diperkenankan untuk menggunakan bahasa ibu mereka sendiri. Ada banyak sekali etnis yang mengalami hal semacam ini. Mereka tidak mendapatkan kebebasan untuk mengembangkan identitas mereka, tentang “siapa” diri mereka sebenarnya.

            Inilah yang terjadi dalam Federasi Rusia. Warisan Kerajaan yag otoriter dan diktatorial hanya bisa melakukan penekanan-penekanan terhadap rakyatnya untuk menerima kebijakan dari atas tanpa memberikan ruang untuk berbicara. Hal inilah yang diwarisi oleh etnik Rusia dari kekaisaran Tsar-isme dalam sistem Rusia yang Monarki. Ketika USSR telah berbentuk sebagai sebuah negara Federal tidak ada upaya Nation Building untuk menyatukan etnik-etnik yang berbeda-beda tersebut dalam membangun Rusia yang baru. Kemudian muncullah slogan “Empire-Savers” vs “Nation-Builders”[4].

            Di samping itu, juga adanya chauvinisme yang berlebihan, utamanya dari etnik mayoritas. Sehingga, etnik-etnik minoritas yang sebenarnya sudah memiliki sistem pemerintahan otonomi melalui Federasi menuntut adanya sebuah sistem Ethnopolitics yang berujung pada disintegrasi Rusia di tahun 1991[5]. Padahal wilayah-wilayah pinggiran inilah yang menjadi pemasok makanan bagi inner circle sabuk Maron Rusia. Oleh sebab itu di era awal perpecahan Rusia di masa transisi ketersediaan pangan di Rusia mengalami penurunan. Food Security di Rusia pasca disintegrasi Rusia mulai menurun. Penelitian yang dilakukan oleh FAO pada 1 January 1988, pasokan ketersediaan bahan pangan Rusia dalam bidang ternak sapi sebanyak 60 juta ekor, domba dan kambing sekitar 62 juta ekor. Angka ini mengalami penurunan yang cukup berarti di tahun 1991. Ternak sapi menjadi sekitar 57 juta ekor, domba dan kambing sekitar 58 juta ekor. Angka ini terus mengalami penurunan. Hingga di tahun 2000, ternak sapi menjadi hanya sekitar 28 juta ekor, sedangkan domba dan kambing menjadi hanya sekitar 17 juta ekor. Demikian pula produksi pertanian yang mengalami fluktuasi hasil panen yang bahkan kadang-kadang tidak mencukupi kebutuhan pangan domestik[6].

            Sementara jumlah balita di Rusia yang mengalami kekurangan gizi pada tahun 1992 sebesar 11.8% yang kemudian meningkat menjadi 14.9% di tahun 1994. Sedangkan anak-anak yang mengalami kekurangan gizi pada tahun 1992 sebesar 11.0% kemudian meningkat menjadi 12.3% di tahun 1994[7].

            Setidaknya angka-angka yang disajikan oleh FAO ini dapat memberi sedikit gambaran bagaimana jaminan pangan Rusia pasca runtuhnya Uni Soviet. Bahwa negara-negara Periphery tidak lagi menyetok sumber bahan makanan yang hanya terpusat pada daerah utama, pusat pemerintahan dan ekonomi.

 

References

            FAO Economic and Social Development Paper. Food Security in the Russian Federation. 2003:  Food And Agriculture Organization of the United Nations: Roma.

            Gitelman, Zvi. Nationality and Ethnicity in Russia and the Post-Soviet Republics. 1994. Macmillan Press Ltd.: London.

            Sakwa, Richard. Russia Politics and Society. Fourth Edition. ch. 11, pg 241.

            Szporluk, Roman. Dilemmas of Russian Nationalism. 1991. Westview Press: Oxford.

            Winarno, Budi. Materi kuliah Politik Pemerintahan Russia. 2008. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

           

            Russian federalism: Continuing myth or political salvation?http://findarticles.com/p/articles/mi_qa3996/is_200104/ai_n8943252/ diakses pada Rabu 27 Oktober 2010.

           


[1]             Russian federalism: Continuing myth or political salvation?, http://findarticles.com/p/articles/mi_qa3996/is_200104/ai_n8943252/ diakses pada Kamis 28 Oktober 2010.

               

[2]    Budi Winarno. Materi kuliah Politik Pemerintahan Russia. 2008. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

[3]    Richard Sakwa. Russia Politics and Society. Fourth Edition, ch. 11, pg 241.

[4]    Roman Szporluk. Dilemmas of Russian Nationalism. 1991. Westview Press: Oxford.

[5]    Zvi Gitelman. Nationality and Ethnicity in Russia and the Post-Soviet Republics. 1994. Macmillan Press Ltd.: London.

[6]    FAO Economic and Social Development Paper. Food Security in the Russian Federation. 2003:  Food And Agriculture Organization of the United Nations: Rome.

[7]    Ibid, hal. 58.

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s