Neoliberalisme

Pada dasarnya, paham neoliberalisme tidak hanya terbatas pada bidang ekonomi saja. Ia menekankan pentingnya kerjasama dalam dunia yang anarki (tanpa kehadiran hegemon). Secara sistem internasional, neoliberalisme dekat dengan neorealisme. Dimana Neoliberalisme menggunakan Institusi sebagai Rezim Internasional dengan seperangkat aturan-aturan main untuk mendorong semangat kerjasama, memonitor kepatuhan masing-masing anggota dan mencegah adanya perilaku curang dalam hubungan kerjasama tersebut. Neoliberalisme menekankan pentingnya institusi dalam hubungan kerjasama Internasional. Oleh karena itu ia sering disebut sebagai Liberal Institutionalism.

            Seperti yang sudah dinyatakan sebelumnya bahwa Neoliberalisme tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi saja. Ia juga bisa berada di bidang keamanan, misalnya kerjasama pelucutan senjata nuklir di era Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Russia dalam bentuk SALT dan START. Bisa juga dalam bidang lingkungan, misalnya Kyoto Protokol. Namun apa yang dibahas dalam Neoliberalisme secara dominan adalah seputar kerjasama di bidang ekonomi antara negara-negara. Karena sebagai bentuk kontraposisinya terhadap perspektif Realis, juga mengenai dampaknya sendiri yang sangat massif di dunia internasional dengan kehadiran rezim-rezim internasional tersebut.

            Neoliberalisme berakar dari paham Liberalisme yang percaya bahwa perdamaian dunia akan dapat tercipta dengan adanya kerjasama di antara negara-negara. Sehingga masing-masing negara akan berusaha memenuhi absolute gainnya. Namun dengan fenomena negatif dari adanya Neoliberalisme dewasa ini nampaknya menjadi sebuah “perdamaian” yang dilematis. Akibat yang ditimbulkan dari adanya praktik-praktik Neoliberalisme bahkan lebih buruk dari konflik ataupun perang.

            Terdapat penyimpangan di dalam Neoliberalisme yang menyimpang dari paham Liberalisme. Hal ini juga dikarenakan adanya tuntutan zaman dalam hal globalisasi. Paham Liberalisme dengan tokoh utamanya Adam Smith dan David Ricardo, dengan teorinya ‘Invisible Hand’ ataupun ‘Laissez Faires’ yang tidak menghendaki campur tangan negara di dalam pasar; serta konsep Comparative Advantage yang dikemukakan oleh David Ricardo. Kritik ini salah satunya dikemukakan oleh Polanyi yang mengemukakan peran vital negara di dalam pasar pada hubungan kerjasama negara. Polanyi berpendapat bahwa campur tangan negara dalam kehidupan ekonomi masyarakat sebenarnya adalah sebagai bentuk perlindungan diri kepada  warganya terhadap pasar yang memiliki kemampuan ‘destructive power’ yang mana jika tidak diatur oleh negara, maka akan dapat menghancurkan kelompok masyarakat tersebut. List juga berpendapat bahwa negara memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan ekonomi masyarakat industri, melindungi embryonic industries dari persaingan luar sampai mereka siap untuk memenangkan pasar global dalam posisi yang setara.

            Di samping itu, ada pergeseran di dalam Neoliberalisme dari paham Liberalisme terutama mengenai perpindahan modal kapital keluar negeri, pertumbuhan perusahaan-perusahaan transnasional yang tumbuh dengan subur, adanya internasionalisasi produksi—menguji tesis Comparative Advantage dan Laissez Faires. Perdagangan dunia dewasa ini diwarnai dengan keberadaan intra-firm trading dalam perusahaan-perusahaan transnasional. Volume perdagangan valuta asing (forex) di dalam tubuh perusahaan-perusahaan transnasional tercata sudah melebihi US$1.5 trillion perhari, 60 kali lebih besar daripada perdagangan dunia sendiri (Burchill). Bank-bank besar transnasional dan institusi-institusi keuangan, perusahaan asuransi, pialang dan spekulan telah mendominasi pasar uang, yang eksis hanya untuk memaksimalkan kekayaan mereka pribadi.

            Permasalahan yang ditimbulkan oleh Neoliberalisme ini kemudian juga memunculkan tindakan Non-state terrorism. Tindakan ini berupa transnational crime yang menentang “modernitas liberal”. Akibat adanya kejahatan transnasional ini, maka terdapat tantangan dalam hal perlindungan terhadap perbatasan (border protection). Dalam hal ini jelas, pasar tidak dapat memberikan jawaban untuk solusi pemecahan masalah keamanan ini.

 

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s