Pendekatan Institutional Bargaining

Pendekatan Institusional Bargaining memiliki strategi yang berbeda dibandingkan dengan Pay-off structure. Ia mengedepankan faktor-faktor seperti: 1. Multiple Actors and unamity, 2. Interactive Bargaining, 3. The veil of uncertainty, 4. Problems and approaches, 5. Transnational alliances, dan 6. Shifting involvement. Ia mencoba menkolaborasikan hubungan kerjasama internasional yang berbasis pada kepentingan dengan power. Yaitu adanya peran dari seorang “leader” yang dapat dikatakan sebagai hegemon. Peran hegemon di sini sendiri lebih dianggap sebagai “katalisator” untuk melancarkan jalannya kerjasama antara negara-negara. Dengan kehadiran leadership di sini juga sebenarnya untuk menekan kemungkinan defect yang mungkin terjadi di dalam hubungan kerjasama internasional. Namun keberadaan leader di sini juga diharapkan sebagai figur pemimpin yang kuat.

            Seperti yang terjadi dalam kasus upaya penyelesaian minyak 1973 oleh OPEC yang merupakan kasus embargo minyak oleh negara-negara OPEC akibat terjadinya Perang Yom-Kippur antara Arab dengan Israel. Namun dalam upaya embargo ini Irak nampaknya defect dan tetap menjual minyaknya kepada pihak Amerika Serikat.

            Di samping itu, hubungan Kerjasama Internasional secara umum memiliki bentuk-bentuk kerjasama, di antaranya kerjasama yang berbentuk formal dengan adanya traktat dan perangkat-perangkatnya, kerjasama yang berbentuk informal, dan kerjasama dalam bentuk RUMs (Reciprocal Utility Missions). Perbedaan di antara ketiganya ada pada sifat, ikatan, dan resiprokaitasnya. Bentuk kerjasama formal dan informal sifatnya sama-sama menggunakan traktat, sedangkan RUMs tidak. Ikatan dalam kerjasama Formal dalam ikatan legal, kerjasama informal ikatannya dalam bidang politik saja, sementara RUMs ikatannya dalam bentuk saling memahami. Dari resiprokaitasnya kerjasama formal dan informal bersifat spesifik, sedangkan RUMs resiprokaitasnya berupa pemahaman.

            Di dalam RUMs sendiri terdapat tiga bentuk hubungan resiprokaitas, GRIT (Graduated Reciprocation in Tension Reduction), TFT (Tit for Tat), CR (Conditional Reduction). Tujuan dari GRIT sendiri adalah untuk meredakan tension dalam hubungan kerjasama internasional. TFT bertujuan dalam kerjasama hubungan antar negara, dan CR berupa bentuk kesepakatan. Ketiga-tiganya memerlukan aksi awal unilateral. Sedangkan di dalam TFT tidak memerlukan pengumuman awal, tetapi di dalam GRIT dan CR hal tersebut diperlukan. Sebenarnya resiprokaitas di dalam TFT tidak diharuskan, demikian pula halnya dengan GRIT, namun di dalam Conditional Reduction resiprokaitas itu harus ada. Di dalam CR juga dibutuhkan nilai yang sama dan adanya retaliasi juga dimungkinkan dalam Conditional Reduction.

            Salah satu contoh RUMs (Reciprocital Utility Missions) adalah hubungan antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet untuk mengurangi tenaga nuklir mereka satu sama lain dalam kerjasama SALT (Strategic Arms Limitation Treaty), START (Strategic Arms Reduction Treaty) I dan II yang juga menandai berakhirnya era Perang Dingin. SALT dan START secara lebih spesifik mungkin termasuk di dalam Conditional Reduction, dan juga Tit for Tat dalam praktik kerjasamanya. Salah satu bentuk RUMs ini mungkin juga terdapat di dalam WTO dimana negara-negara diminta untuk mereduksi bahkan mengeliminasi hamabatan dalam perdagangan seperti subsidi dalam bidang pertanian maupun hambatan tarif.

so� a 0�`3 xt-align:justify’>            Yang jelas, Rezim Internasional dibentuk untuk memfasilitasi hubungan kerjasama dalam membahas isu-isu tertentu dengan seperangkat aturan-aturan yang disepakati bersama-sama.

 

           

Goods�T >e�= �2* dak mudah secara ekonomis (the consumption of the good is economically feasible)[1]. Negara-negara yang lebih kecil tersebut yang kemudian disebut sebagai Free-Riders dalam masalah ini. Masalah yang nyata muncul berkaitan dengan fenomena ini adalah ketika terjadi Great Depression antara tahun 1920-an akhir dan 1930-an. Dimana pada waktu itu yang tampil sebagai Hegemon adalah Amerika Serikat dan juga Inggris. Masalah yang timbul pada waktu itu adalah superfluity of would-be-free-riders (berlebihannya negara-negara yang ingin menjadi free-riders). Maka kemudian muncullah “kecenderungan sistematik ‘eksploitasi’ Negara besar oleh Negara kecil (a systematic tendency for ‘exploitation’ of the great by the small)”. Maka hal ini pulalah yang sekarang masih sering muncul dalam pendekatan Power dalam rezim internasional.

 

 


[1] Andreas Hasenclever. Theories of International Regimes. 2004. Cambridge University Press: New York.

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s