Perang Austro-Prussia 1866: Kekalahan Austria

Perang Austria-Prussia (1866) dikenal juga sebagai “Perang Bismarck”, “Perang Tujuh Minggu”, “Pertempuran Sadowa (Battle of Sadova)”, atau “Pertempuran Köninggrätz (Battle of Köninggrätz)”[1]. Merupakan upaya pembubaran Konfederasi Jerman oleh Prussia dari dominasi Austria atas Jerman. Disebut sebagai Perang Bismarck karena Bismarck dianggap sebagai “dalang” dari peperangan ini yang juga melibatkan Italia; yang masih ingin mengambil alih Venesia dari Austria. Disebut sebagai Perang Tujuh Minggu karena Perang ini berlangsung selama tujuh minggu, dari tanggal 15 Juni hingga 26 Juli 1866. Disebut sebagai Pertempuran Sadowa atau Köninggrätz, karena peperangan ini terjadi di wilayah dekat Sadowa dan di dekat Köninggrätz di daerah Bohemia (sekarang menjadi wilayah bagian Republik Ceko) pada tanggal 3 Juli 1866. Pertempuran inilah yang disebut sebagai pertempuran penentu (decisive battle) di dalam Perang Austro-Prussia (1866). Perang ini disebut juga sebagai Perang Sipil Jerman (German Civil War). Namun, A. J. P Taylor sendiri sebenarnya tidak menganggap “peperangan” ini sebagai sebuah “Perang” oleh Bismarck (Prussia) terhadap Austria. Akan tetapi lebih kepada model “permainan” untuk mendapatkan wilayah Schleswig dan Holstein dari Denmark, dan membentuk Unifikasi Jerman (Konfederasi Jerman Utara)[2].

            Konfederasi Jerman sendiri merupakan gabungan wilayah-wilayah yang berbahasa Jerman (Groβdeutsche Lösung) di bawah Kekaisaran Austria, di bawah kepemimpinan Keluarga Habsburg. Mulai dari wilayah Prussia, Austria, Hungaria, termasuk wilayah Bohemia. Konfederasi ini mulai dibentuk sejak runtuhnya Konfederasi Rhein (Napoleon I) sekitar tahun 1815. Kekaisaran Austria menguasai Konfederasi Jerman dan Diet (Parlemen) yang ada di dalamnya. Sementara Prussia hanya memiliki sedikit pengaruh di dalam Konfederasi. Di bawah Kaisar Wilhelm I dan di masa pemerintahan Otto von Bismarck, Prussia memiliki keinginan kuat untuk membentuk nasionalisme Konfederasi Jerman Utara.

            Sebenarnya awal mula pemicu peperangan ini ialah mengenai perebutan wilayah Schleswig dan Holstein, yang merupakan bekas wilayah Denmark. Sebagian besar penduduknya merupakan Etnis Jerman. Berdasarkan Traktat London 1852, kedua wilayah ini berdiri secara terpisah dari Kerajaan Denmark. Namun pada 18 November 1863, Christian IX (pengganti Raja Denmark Frederick VII yang meninggal pada 15 Nopember 1863) tiba-tiba saja menandatangani secara sepihak sebuah konstitusi yang menyatakan bahwa Schleswig dan Holstein kembali bergabung dengan Kerajaan Denmark. Hal ini tentu saja merupakan pelanggaran terhadap Traktat London tahun 1852. Hal ini memicu kemarahan dari pihak Prussia, yang kemudian Austria ikut bergabung dengan Prussia. Di sinilah kemudian terjadi perebutan pemerintahan atas wilayah Schleswig dan Holstein. Serta kaitannya dengan wilayah Venesia yang merupakan wilayah dengan penduduk mayoritas Austria, yang menjadi perebutan dengan Italia untuk Unifikasi Italia (Italia Irredenta), yang berada di bawah lindungan Prussia di dalam Konfederasi Jerman.

            Tulisan ini akan membahas mengenai a.) Perang Austro-Hungaria 1864-1866, b.) Tokoh-tokoh yang terlibat dan berperan di dalamnya, c.) Implikasi Perang Austro-Prussia bagi kejadian selanjutnya dan sejarah Eropa secara umum. Pada bagian Implikasi Perang Austro-Prussia akan dibahas mengenai dampak dari Kekalahan Austria dan Hubungan Prussia-Austria pasca Kekalahan Austria.

  1. 1.      Perang Austro-Prussia 1864-1866

Perang Austria-Prussia dimulai dengan permasalahan atas wilayah Schleswig dan Holstein. Wilayah Schleswig dan Holstein dulunya merupakan wilayah Denmark. Namun berdasarkan Traktat London 1852, wilayah tersebut terpisah dari Kerajaan Denmark. Wilayah Schleswig sebagian besar penduduknya beretnis Jerman. Mereka lebih memilih terpisah dari Denmark dan berdiri secara independen dengan asosiasi yang dekat dengan Konfederasi Jerman. Perang Schleswig Pertama terjadi pada tahun 1848 hingga 1851. Kemudian ditutup dengan Traktat London tahun 1852.

Pada tanggal 15 Nopember 1863, Raja Denmark, King Frederick VII meninggal dunia. Kemudian digantikan oleh Christian IX. Pada tanggal 18 Nopember 1863 Christian IX berusaha kembali untuk mengambil alih wilayah Schleswig Holstein ke dalam Kerajaan Denmark dengan menandatangani secara sepihak konstitusi penggabungan wilayah Schleswig dan Holstein ke dalam Kerajaan Denmark. Hal ini kemudian memicu kemarahan Prussia. Pada saat Perang Schleswig Pertama, Prussia ikut membantu wilayah Schleswig untuk memisahkan diri dari wilayah Denmark. Tindakan yang dilakukan oleh Christian IX ini telah melanggar Traktat London 1852 dengan melakukan penandatanganan secara sepihak terhadap konstitusi penggabungan wilayah Schleswig dan Holstein ke dalam wilayah mereka.

Maka Bismarck menyatakan perang terhadap Denmark. Francis Joseph, Kaisar Austria dan Rechberg, Perdana Menteri Austria telah menyatakan untuk mendukung Prussia dan tidak akan membiarkan Prussia bertindak sendirian atas persoalan mengenai wilayah tersebut. Maka pada tanggal 16 Januari 1864 Austria dan Prussia menyepakati perjanjian Aliansi terkait dengan persoalan Schleswig dan Holstein. Dalam hal ini Austria telah sepakat untuk membantu Prussia (Bismarck). Sebagai gantinya Austria meminta Bismarck untuk menjamin wilayah Venesia yang menjadi perebutan dengan Italia. Italia sangat menginginkan wilayah Venesia  untuk pembentukan Unifikasi Italia (Italia Irredenta), sementara sebagian besar penduduk Venesia merupakan etnis Austria dan berbahasa Austria. Metternich pernah mengatakan bahwa Italia tidak lebih dari sekedar batas wilayah (Peninsula). Bismarck mengerti bahwa ia mendapatkan tawaran bagus dari Aliansi ini.

Persoalan ini kemudian dibahas di dalam Diet. Permasalahan muncul di dalam Diet. Apakah yang akan dilakukan merupakan bentuk Eksekusi atau Okupasi atas kedua wilayah tersebut. Pada tanggal 7 Desember 1863 Diet menyepakati eksekusi federal di Holstein. Hal ini tidak mendapatkan pertentangan dari Denmark. Permasalahannya adalah mengenai Schleswig, yang berdasarkan Traktat London 1852. Austria dan Prussia bermaksud untuk mengokupasi wilayah Schleswig sebagai bagian dari isi Perjanjian London. Namun pada tanggal 14 Januari 1864 Diet menolak proposal yang diajukan oleh Austria dan Prussia. Maka Austria dan Prussia kemudian mendeklarasikan bahwa mereka akan bertindak sendiri. Pada tanggal 1 Februari 1864, Austria dan Prussia menembus perbatasan Schleswig dan menyatakan perang terhadap Denmark atas wilayah tersebut. Perang ini disebut sebagai Danish-Prussian War 1864.

Dalam Perang ini, Inggris mendukung Denmark. Palmerston, Perdana Menteri Inggris pernah mengumumkan bahwa siapa pun yang berusaha untuk menentang hak-hak dan mencampuri kemerdekaan Denmark, maka ia tidak hanya akan berhadapan dengan Denmark sendirian. Ungkapan yang disampaikan oleh Palmerston ini ditujukan untuk membangkitkan koalisi Eropa. Inggris tidak memiliki kekuatan di Benua Eropa selain dengan mengandalkan koalisi dari negara-negara Great Power lainnya (continental ally). Selain angkatan lautnya, Inggris hanya bisa menyediakan pasukan sebanyak 20.000 orang. Namun dalam upaya menentang Austria dan Prussia ini Rusia dan Prancis menolak. Rusia mengalami serangan hebat (deeply offended) dari intervensi Inggris atas persoalan Polandia. Di sisi lain Rusia melihat aliansi Austria-Prussia sebagai pembentukan kembali batas yang kuat antara Prancis dengan Polandia. Rusia tidak memiliki fokus obsesi lainnya selain Polandia. Rusia memiliki kedekatan dengan Prussia yang mendukungnya dalam persoalan Polandia. Sedangkan Austria memiliki kedekatan dengan Prancis. Napoleon menolak untuk ambil bagian dalam masalah ini, karena yang dilakukan oleh Prussia dan Austria berdasarkan pada dasar Traktat, bukan semangat nasionalisme. Lagipula Prancis memiliki kedekatan dengan Austria. Sementara Drouyn de Lhuys menyambut Aliansi tersebut, dengan alasan memperkuat kekuatan konservatisme, berseberangan dengan apa yang dipikirkan oleh Napoleon yang liberal.

Pada tanggal 19 Februari pasukan Austria dan Prussia berhasil memukul mundur pasukan Denmark keluar dari batas wilayah Schleswig menembus wilayah perbatasan Denmark sendiri. Eksistensi Denmark dalam pertempuran ini menjadi taruhan. Pada tanggal 21 Februari parlemen Inggris kemudian memulangkan armada lautnya (Channel fleet). John Russel, Menteri Luar Negeri Inggris pada waktu itu, dengan terburu-buru dan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan parlemen Inggris memohon bantuan angkatan laut Prancis dan Rusia. Gorchakov, Kanselir Rusia menolak permohonan tersebut dengan alasan angkatan laut Rusia tidak aktif sampai dengan bulan Mei terkait dengan musim dingin. Sementara Prancis bersikeras untuk tidak terlibat dalam permasalahan tersebut, jika dasarnya adalah Traktat (London 1852). Di sisi lain Prancis menawarkan bahwa Prancis hanya akan ikut bertindak jika Inggris menjanjikan wilayah di sekitar Sungai Rhein. Kekuatan Prancis memang sudah melemah. Dengan mengupayakan wilayah di sekitar Sungai Rheinlah Prancis dapat memperoleh kembali kekuatannya di Benua Eropa. Sementara wilayah di sekitar Sungai Rhein berada di bawah pengaruh Prussia.

Aliansi dari pihak Inggris tidak berhasil digalang. Akhirnya kekalahan jatuh di pihak Denmark. Pada tanggal 25 April 1864 diadakan sebuah konferensi di London untuk mengakhiri Traktat London 1852. Dalam hal ini dibentuk kesepakatan atas wilayah Schleswig dan Holstein. Prussia dan Austria mengajukan agar kedua wilayah ini dibentuk sendiri secara terpisah di luar Kerajaan Denmark. Namun Denmark menolak. Maka Austria dan Prussialah yang akhirnya meminta wilayah tersebut setelah menang melalui Perang dengan Denmark. Di sinilah akar dari Perang Austria dan Prussia di tahun 1866. Ke tangan siapakah pemerintahan atas kedua wilayah ini akan dipegang? Jawaban dari permasalahan ini sebenarnya adalah kedua wilayah tersebut jatuh ke tangan Prusia. Sesuai dengan kesepakatan Aliansi yang telah dibuat pada tanggal 16 Januari. Sebagai gantinya Prussia (Bismarck ) memberikan perlindungan atas wilayah Venesia bagi Austria.

Namun Kaisar Francis Joseph menganggap bahwa hal ini tidak adil. Mereka telah berjuang bersama-sama untuk wilayah ini. Khawatir dipermainkan oleh Bismarck, maka Austria juga bersiap-siap dengan mengambil alih wilayah Augustenberg pada 25 Mei. Bismarck kemudian berpura-pura untuk menyepakati perjanjian kepemilikan bersama atas wilayah Schleswig dan Holstein ini pada 28 Mei yang kemudian disahkan pada 25 Juni 1864. Di sinilah muncul celah bagi Prancis untuk memecah belah Prussia dan Austria. Agar ia bisa mendapatkan wilayah di sekitar Sungai Rhein. Pada tanggal 20 Juli Denmark menyepakati gencatan senjata dan pada tanggal 1 Agustus 1864 menandatangani kesepakatan penyerahan kedua wilayah tersebut kepada Prussia dan Austria. Tiga minggu kemudian, Bismarck dan Rechberg, Perdana Menteri Austria, bersama dengan Kaisar Wilhelm I dan Francis Joseph mengadakan pertemuan di Schönbrunn. Bismarck mengajukan bahwa kedua negara akan menguasai kedua wilayah tersebut secara bersama. Prussia akan melindungi Venesia sampai dengan perang melawan Italia. Prussia juga akan membantu Austria memulihkan Lombardy. Kemudian Prussia berhak atas kedua wilayah tersebut sebagai reward. Skema tersebut dikacaukan oleh Kedua Kaisar tersebut. Kaisar Wilhelm I akan berperang melawan Italia dengan imbalan Hegemoni atas wilayah Jerman. Sedangkan Francis Joseph tidak akan menyerahkan kepemilikan kedua wilayah tersebut tanpa kompensasi atas wilayah Jerman, Silesia. Francis Joseph sendiri tidak akan menyerahkan hegemoni atas Jerman kepada Prussia tanpa melalui Perang. Maka akhirnya kesepakatan ini “ditunda” dan kepemilikan bersama atas kedua wilayah ini masih tetap diteruskan.

Pada tanggal 15 September, Prancis dan Italia menetapkan Konvensi atas Roma. Pasukan Prancis akan ditarik keluar dari Roma selama dua tahun dan Itali berjanji tidak akan menyerang Roma dan memindahkan ibu kota dari Turin ke Florensia. Hal ini memperkuat posisi Drouyn, bahwa akhirnya Prancis bisa menduduki Roma. Hal inilah yang dulu tidak dapat dilakukan oleh Thouvenel, Perdana Menteri Prancis sebelumnya. Perjanjian ini kemudian memulihkan kembali hubugan baik antara Prancis dengan Italia. Perhatian keduanya kini beralih kepada permasalahan Venesia. Utusan Prancis, Benedetti, dikirim untuk mencegah hubungan dekat (apapun) diantara Austria dan Prussia.

Tugas Benedetti ini kemudian menjadi mudah. Pada tanggal 27 Oktober 1864 Rechberg dipecat dari kedudukan sebagai Perdana Menteri. Karena tidak berhasil menjamin agar Austria bisa masuk dan bergabung ke dalam Zollverein, sebuah Custom Union Prussia. Hal ini menyulitkan Austria. Karena Austria memiliki hutang yang banyak setelah melalui Perang revolusi Hungaria di tahun 1848 dan Perang Sardinia melawan Prancis di tahun 1859. Akhirnya posisi Rechberg digantikan oleh Mensdorff. Kaisar Francis Joseph mengalami keputusasaan. Kesulitan atas masalah keuangan, ditambah lagi dengan krisis konstitusi di Hungaria (dalam kejadian revolusi Hungaria) membuat Austria berada dalam kondisi yang sulit. Maka, pada saat Wilhelm I dan Bismarck berlibur ke Gastein (wilayah Austria), didesak dengan keadaan yang sulit dan disperatif Austria mengajukan Traktat Gastein yang berisi pembagian wilayah Schleswig dan Holstein kepada Prussia.  Menurut Traktat Gastein, penguasaan wilayah Schleswig dan Holstein dibagi menjadi dua. Wilayah Schleswig untuk Prussia, sedangkan Holstein untuk Austria. Bismarck “menerima” “perjanjian sementara” ini pada tanggal 14 Agustus 1865.

Namun meskipun begitu Bismarck tidak lantas tinggal diam. Ia mulai mendekati Italia dan Prancis untuk upaya mendapatkan Venesia. Prussia berjanji membantu Italia untuk memperoleh Venesia. Sementara pancingan yang diberikan kepada Prancis adalah menjanjikan nasionalisme Schleswig utara kepada Denmark. Maka, keduanya mengadakan pertemuan di Biarritz. Prancis tidak mendapatkan apa-apa dari kesepakatan tersebut. Namun Bismarck mengajukan Venesia untuk Italia. Sedangkan Prancis diminta untuk tidak membantu Austria. Bismarck meminta bantuan Prancis untuk  wilayah di sekitar Sungai Main ke Utara, untuk pembentukan Konfederasi Jerman (Konfederasi Jerman Utara), sedangkan wilayah di Selatan Sungai Main dibiarkan kosong.

Sebenarnya Prancis tidak mendapatkan hasil apa-apa dari kesepakatan ini. Sementara itu, terkait dengan Perang melawan Prussia, Austria meminta Italia untuk netral dan menyerahkan Venesia kepada Austria. Austria kemudian akan memberikan Venesia kepada Prancis untuk kemudian diberikan kepada Italia atas kompensasi netralitas Italia. Austria meminta dukungan dari Prancis. Hal inilah yang sangat diinginkan oleh Prancis. Austria berperang melawan Prussia, kemudian Prancis bisa meminta netralitas wilayah di sekitar Sungai Rhein sebagai daerah Buffer bagi Prancis untuk mengembalikan dominasinya di Benua Eropa. Maka Prancis membujuk Italia untuk menerima tawaran Austria tersebut. Namun Italia menolak, karena sudah terikat Perjanjian dengan Prussia sampai dengan 8 Juli 1866.

Austria sempat meminta wilayah Jerman, Silesia dengan bantuan Prancis. Namun Napoleon tidak bisa menjanjikan wilayah tersebut. Ia hanya bisa menjanjikan wilayah Bosnia Herzegovina kepada Austria. Wilayah yang dulunya sangat ingin sekali dimiliki oleh Prussia dan Italia. Austria sangat terobsesi pada tawaran Prancis tersebut. Karena tawaran tersebut dapat memperkuat pengaruh Austria di Hungaria yang sempat melakukan revolusi. Sebenarnya Prancis bermaksud mencurangi Austria. Karena netralitas Italia yang diminta oleh Austria tidak berhasil diperoleh.

Akhirnya pecahlah perang. Austria akhirnya berperang dengan Italia atas Venesia dan berhasil mengalahkan Italia pada 24 Juni di Custoza. Sementara Austria sendiri mengalami kekalahan dari pasukan Prussia pada tanggal 3 Juli 1866 di Sadowa (sekarang merupakan wilayah Republik Ceko). Akhirnya, hasil dari peperangan yang dicapai adalah Austria tetap menyerahkan Venesia kepada Italia. Prussia memperoleh kekuasaannya atas wilayah Utara Sungai Main dan membentuk Konfederasi Jerman Utara. Sementara Konfederasi Jerman dibubarkan. Perang ini diakhiri dengan Perjanjian Praha pada tanggal 23 Agustus 1866[3].

 

2. Tokoh-Tokoh Yang Terlibat dan Berperan di Dalam Perang

            (1) Prussia

a. Wilhelm Friedrich Ludwig (Wilhelm I, Hohhenzollern), merupakan Raja Prussia. Bersama dengan Bismarck, ia memperjuangkan semangat nasionalisme dan berhasil membentuk Unifikasi Jerman, di dalam Konfederasi Jerman Utara di bawah Pemerintahan Prussia. Ia menjadi Kaisar Jerman pertama setelah berhasil membentuk Unifikasi Jerman dari Austria, setelah melalui Perang Austro-Prussia.

b. Bismarck, Otto Eduard Leopold Graf Von, Perdana Menteri Prussia pada masa Perang Austro-Prussia. Ia mulai menjabat  pada tahun 1862[4]. Setahun kemudian, pada bulan Nopember 1863 ia memperjuangkan kedudukan Schleswig dan Holstein berdasarkan Traktat London 1852 dari Kerajaan Denmark. Ia membuat kesepakatan dengan Prancis dan Italia untuk membentuk Konfederasi Jerman Utara, dengan menjanjikan bantuan kepada Italia untuk mendapatkan Venetia dalam perang melawan Austria.  

c. Manteuffel, Edwin Freiherr Von. Manteuffel merupakan seorang Letnan Jenderal Prussia dalam Perang melawan Denmark untuk memperjuangkan Schleswig dan Holstein pada tahun 1864. Ia juga berhasil menduduki Holstein pada Perang Austro-Prussia 1866. Ia berperan dalam Perang Tujuh Minggu pada bulan Juli dalam membawa kemenangan Prussia[5].

d. Moltke, Helmuth Karl Bernhard Graf Von. Marsekal Jenderal Prussia, pemimpin pasukan Prussia selama 30 tahun. Ia dianggap sebagai pembuat strategi yang hebat dalam perang di abad 19. Didukung dengan keberhasilan ekonomi Prussia pada waktu itu melalui Zollverein (sebuah Custom Union), ia berhasil dalam Perang Austro-Prussia dengan menggunakan railway (jalan-jalan kereta api) dan persenjataan artileri seperti Dreyse needle gun, sebuah senapan laras panjang yang lebih cepat dalam menembak, dibandingkan senjata pasukan Austria[6].

            (2) Austria

a. Francis Joseph (Habsburg-Lorraine), Kaisar Austria sekaligus pemimpin Konfederasi Jerman (1815-1866). Ia menguasai pemerintahan Konfederasi Jerman dan Diet (Parlemen) yang ada di dalamnya. Ia juga menjadi Raja Hungaria, Raja Bohemia dan Raja Kroasia. Dalam melawan Italia ia berusaha mempertahankan Venesia melalui pertempuran. Kaisar Franz Ferdinand menginginkan kekalahan daan kemenangan hanya melalui pertempuran. Ia juga mendukung Prussia atas pertempuran Schleswig dan Holstein. Ia sangat menginginkan daerah Prussia di wilayah Silesia. Pada bulan Oktober 1864 ia mendapatkan pukulan berat di bidang ekonomi. Austria tidak berhasil masuk dan bergabung di dalam Zollverein (sebuah Custom Union Prussia). Sementara Austria menderita kerugian hebat pasca Revolusi Hungaria 1848, Perang melawan Prancis dalam Austro-Sardinian War 1859, serta Perang melawan Italia atas perebutan Venesia. Hal ini pulalah yang merupakan salah satu faktor kekalahan Austria dalam Perang melawan Prussia 1866[7].

b. Rechberg, Johann Bernard Graf von, und Rothenlöwen, Perdana Menteri Austria 1859-1864. Bersama dengan Bismarck, ia berperang atas wilayah Schleswig dan Holstein. Serta membuat upaya kesepakatan dengan Bismarck atas kedua wilayah tersebut. Pada bulan Oktober 1864 ia gagal memenuhi janji Prussia atas Austria untuk dapat bergabung di dalam Zollverein, sebuah Custom Union Prussia. Hal ini memberikan pukulan hebat bagi Austria. Pada 27 Oktober 1864 posisinya digantikan oleh Mensdorff[8].   

d. Mensdorff, Alexander Graf von, -Pouilly & Maurice Esterházy, menggantikan posisi Rechberg sebagai Perdana Menteri Austria setelah Rechberg. Ia merupakan Jenderal Kavaleri dengan pengalaman politik yang sedikit.  Pengatur kebijakan yang sesungguhnya adalah Maurice Esterházy. Ia memandang pesimis masa depan Austria pasca kegagalan untuk masuk dan bergabung ke dalam Zollverein[9].

f. Benedek, Ludwig August Ritter Von, Jenderal Austria dalam Perang melawan Prussia di Pertempuran Köninggrätz. Namun ia tidak berhasil membawa Austria dalam kemenangan[10].

g. Francis Deák, Pemimpin Austria di tahun 1866. Berhasil meredakan pemberontakan atas krisis yang terjadi di Austria dan menggalang kekuatan untuk Perang Austro-Prussia 1866[11].

            (3) Prancis

a. Charles Louis Napoleon Bonaparte (Napoleon III), keponakan dari Napoleon I. Ia merupakan seorang Liberal. Dalam Perang Austro-Prussia ia memilih untuk netral. Namun ia juga memiliki keinginan kuat untuk mendapatkan kembali wilayah di sekitar sungai Rhein sebagai wilayah Buffer bagi Prancis. Dengan begitu ia mengharapkan kejayaan kembali Prancis di Benua Eropa[12].

b. Drouyn de Lhuys, Édouard, Perdana Menteri Prancis. Ia berhasil menundukkan Roma atas Prancis. Meskipun Napoleon adalah seorang Liberal, namun Drouyn adalah seorang Konservatif. Pemikirannya sering berseberangan dengan Napoleon III. Ia berhasil menekankan kepada Italia untuk tidak mengharapkan bantuan Prancis saat terjadi perang melawan Austria untuk mendapatkan Venesia[13].

c. Benedetti, dulunya merupakan pendukung Thouvenel (Perdana Menteri sebelum Drouyn). Ia dikirim oleh Napoleon ke Berlin sebagai utusan (diplomat), untuk mencegah hubungan kedekatan Prussia dengan Austria saat terjadi hubungan genting antara keduanya terkait dengan masalah pemerintahan atas wilayah Schleswig dan Holstein[14].      

            (4) Italia

a. La Marmora, Alfonso Ferrero, Perdana Menteri Italia pada saat terjadi upaya perebutan Venesia dari Austria. La Marmora dibujuk oleh Napoleon III untuk merelakan Venesia kepada Austria. Namun ia menolak memberikan Venesia kecuali melalui plebisit[15].

b. Nigra, utusan Italia untuk Prancis. Atas peristiwa turun takhta-nya Pangeran Rumania, Nicholas Cuza pada bulan Februari 1866, ia memiliki gagasan bahwa Austria bisa mendapatkan Rumania sebagai ganti rugi atas Venesia apabila Italia berhasil mendapatkan Venesia. Oleh karena itulah ia mendesak parlemen Italia untuk terus mendekat dengan Prussia untuk membentuk sebuah aliansi perang melawan Austria[16].

c. Malaguzzi, Malaguzzi seorang bangsawan Italia yang konservatif. Pada saat kegagalan Austria untuk masuk dan bergabung ke dalam Zollverein (sebuah Custom Union Prussia) Malaguzzi membujuk Austria untuk menjual Venesia kepada Italia. 

            (5) Inggris

a. Palmerston, Henry John Temple, Perdana Menteri Inggris pada saat terjadi perebutan Schleswig dan Holstein antara Prussia dengan Denmark. Inggris memberikan dukungan kepada Denmark. Namun di sisi lain mencoba mencari dukungan dari Great Power lainnya yang tersisa, yaitu Prancis dan Russia. Namun keduanya menolak. Russia kecewa atas keterlibatan Inggris dalam krisis Polandia. Sementara Napoleon menolak, atas dasar Proposal Kongres Eropa yang ia buat[17].

b. Russel, John. Pada saat terjadi perebutan wilayah Schleswig dan Holstein, Russel merupakan Menteri Luar Negeri Inggris. Ia sempat meminta bantuan Angkatan Laut Prancis dan Russia bersama dengan Inggris untuk membantu Denmark tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan kabinet Inggris pada bulan Februari 1864. Gorchakov (Rusia) menolak dengan alasan angkatan laut Rusia tidak aktif sampai dengan bulan May terkait dengan musim dingin (pada musim dingin, perairan Rusia yang dekat dengan Kutub Utara sebagian membeku sehingga Gorchakov menggunakan alasan ini untuk menolak). Sementara Prancis (Drouyn) menimbang-nimbang tawaran Russel dengan harapan wilayah di sekitar Sungai Rhein[18].      

c. Cowley, Henry Richard Charles Wellesley, 1st Earl, Duta besar Inggris untuk Prancis. Pada saat terjadi perselisihan terhadap Schleswig dan Holstein ia diminta oleh Drouyn agar Inggris melaksanakan Traktat London terkait dengan permasalahan Schleswig dan Holstein[19]

d. Clarendon, utusan Inggris yang dikirim ke Paris agar Napoleon menghadiri Konferensi Traktat London mengenai kedudukan Schleswig dan Holstein pada tanggal 25 April 1865. Namun Napoleon menolak Konferensi tersebut karena kemenangan Prussia atas Schleswig dan Holstein tidak berdasarkan pada semangat nasionalisme. Di samping itu pula, Prancis tidak berhasil mendapatkan wilayah di sekitar Sungai Rhein[20].

            (6) Denmark

a. Christian IX, Raja Denmark pengganti King Frederick VII. Ia naik takhta pada tanggal 16 Nopember 1863. Pada tanggal 18 Nopember 1863, ia menandatangani secara sepihak penggabungan wilayah Schleswig dan Holstein kembali ke dalam Kerajaan Denmark. Tindakannya memicu kemarahan dari Prussia karena melanggar aturan Traktat London 1852[21].

            (7) Rusia

Gorchakov, Alexander Mikhailovich

            Gorchakov merupakan Kanselir Rusia. Ia tidak memiliki perhatian yang lain di Benua Eropa selain kepada Polandia. Oleh karena itulah ia tidak menyukai Prancis dan kecewa atas keterlibatan Inggris. Rusia sangat mendukung Prussia yang dulu mendukungnya dalam persoalan Polandia[22].

 

3. Implikasi Perang Austro-Prussia 1866

            (1) Dampak Perang

a. Dominasi Prussia atas Jerman

            Hasil paling nyata dari kemenangan Prussia atas Perang Asutro-Prussia tahun 1866 di Sadowa adalah pembubaran Konfederasi Jerman. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, Jerman menguasai wilayah di sebelah Utara Sungai Main. Kemudian membentuk Konfederasi Jerman Utara yang kemudian menjadi Kekaisaran Jerman, dengan Wilhelm I sebagai Kaisar pertamanya. Upaya Unifikasi Jerman ini sebenarnya merupakan “proyek” Wilhelm I yang mengedepankan semangat nasionalisme Jerman. Upaya ini kemudian diwujudkan oleh Bismarck yang baru saja menempati posisinya sebagai Perdana Menteri pada tahun 1862. Wilhelm I sering merasa gerah dengan dominasi Austria atas Konfederasi Jerman. Dengan pembubaran Konfederasi Jerman dan dibentuknya Konfederasi Jerman Utara ini, wilayah di bagian Selatan Sungai Main dibiarkan kosong dan berdiri sendiri[23].

            Permasalahan yang kemudian muncul adalah wilayah Jerman Utara yang lebih berpihak kepada Austria  Keadaan justru memburuk. Prussia menganeksasi bukan hanya wilayah Schleswig dan Holstein, tetapi juga wilayah Hesse-Cassel, Nasau, Frankfurt dan Hanover. Dengan pengucilan terhadap Austria di dalam Konfederasi Jerman Utara, Prussia menguasai 2/5 wilayah Konfederasi Jerman (1815-1866) dan 2/3 populasi penduduk Jerman. Negara-negara Jerman lainnya yang lebih kecil di sebelah Utara Sungai Main yang tidak dianeksasi oleh Bismarck, yang berjumlah dua puluh negara, oleh Bismarck dibentuk ke dalam “sambungan” wilayah baru dan dekat dengan Konfederasi Jerman Utara. Setiap negara bagian mendapatkan otonomi lokal, namun di bawah subordinasi pemerintah federal dengan Raja Prussia sebagai “Presiden turun-temurunnya”.[24]

b. Pengucilan Austria dari Konfederasi  Jerman Utara dan Pembubaran Konfederasi Jerman

            Di Kekaisaran Austria, Perang Tujuh Minggu menghasilkan perubahan drastis. Hungaria berhasil ditundukkan di bawah kekuasaan Austria pasca revolusi      nya di tahun 1849. Sementara sebelumnya terjadi kekhawatiran di Wina akan terjadi pemberontakan akibat krisis di tahun 1866. Namun di bawah pemerintahan Francis Deák di tahun 1866, pemberontakan berhasil diredam. Dengan pengaruh kekuatan Austria di Hungaria, Austria juga berhasil meredamkan kaum Slavic di sekitar wilayah tersebut. Pengaruh kekuatan Austria di Hungaria justru semakin memperkuat kekuasaan Habsburg di kedua wilayah tersebut. Bukan hanya memperkuat kekuasaannya di Hungaria (Magyar), Austria juga mengklain Polandia, Ceko dan Yugoslavia. Di tahun 1867, dibuatlah sebuah perjanjian dalam. Kekuasaan Habsburg dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama, Kekaisaran Austria, meliputi Austria, Bohemia, Galicia, Carniola dan Tyrol. Sedangkan bagian yang kedua, Kerajaan Hungaria, meliputi Hungaria, Kroasia, Banat dan Taransylvania. Kedua Pemerintahan memiliki konstitusi dan parlemennya masing-masing, dan tidak mencampuri urusan Pemerintahan satu sama lain. Kekuasaan Austria-Hungaria berbentuk Monarki Ganda (Dual Monarchy). Keduanya akan dipimpin oleh Pemimpin bersama yang mendapat julukan “Kaisar Asutria dan Raja Hungaria”. Kedua wilayah akan memiliki pasukan bersama, politik luar negeri bersama dan menteri-menteri bersama yang duduk di pemerintahan pusat[25].

 

            (2) Hubungan Austria-Prussia Pasca Kekalahan Austria 1866

Dengan kemenangan Prussia dan kekalahan Austria dalam Perang Austro-Prussia 1866, Prussia (Bismarck) tidak ingin menjadikan Austria sebagai mortal enemy. Hal ini dibuktikan dengan relasi dalam bentuk aliansi yang dibangun oleh Bismarck dengan Austria pasca pembubaran Konfederasi Jerman 1866. Bismarck membentuk aliansi dengan Austria diantaranya dalam bentuk Liga Tiga Kaisar (Dreikaiserbund) antara Austria-Prussia-dan Russia yang merupakan “reinkarnasi” dari Aliansi Suci (The Holy Alliance) pada masa revolusi di Benua Eropa. Kemudian ada pula Dual Alliance antara Prussia dan Austria pada tahun 1879. Serta Triple Alliance antara Austria-Prussia dan Italia yang kemudian berlanjut pada Perang Dunia I. Dalam Perang Dunia I dan II pun Austria dan Prussia berada di pihak yang sama untuk melawan pihak sekutu.

Sebenarnya dalam hal ini Austria dan Prussia sama-sama mendapatkan keuntungan. Dengan kekalahannya, bukan berarti Austria tidak mendapatkan apa-apa. Ia kembali mendapatkan hegemoninya di wilayah Hungaria. Bukan hanya itu, Austria juga berhasil mengklaim wilayah Polandia, Kroasia dan Yugoslavia. Pengaruhnya di dalam Konfederasi Jerman Utara memang tidak ada lagi, setelah sekian lama Jerman Austria memiliki eksistensi di sana. Pengaruhnya tidak hanya menjadi semakin kuat di Hungaria, tetapi ia juga memiliki proyeksi di wilayah Balkan, dengan wilayah Bosnia Herzegovina yang sebelumnya telah dijanjikan oleh Prancis. Ia juga memiliki pengaruh di Bohemia, Bavaria, Kroasia, dan wilayah-wilayah lainnya di sekitar Hungaria. Eksistensi kekuasaan Keluarga Habsburg juga menjadi semakin kuat.

Sementara itu, kekuasaan Hohhenzollern di wilayah Jerman Utara juga berhasil mencapai cita-citanya untuk membuat sebuah Konfederasi yang kemudian menjadi Konfederasi Jerman. Hal yang menarik adalah, seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa Bismarck tidak ingin menjadikan Austria sebagai mortal enemy. Selain itu berdasarkan pandangan A.J.P. Taylor Bismarck juga tidak menganggap Perang dengan Austria sebagai sebuah “Perang sungguhan”, akan tetapi hanya sebagai cara untuk mendapatkan hegemoni Prussia atas Jerman. Karena Francis Joseph tidak akan menyerahkan Hegemoni Konfederasi Jerman tanpa melalui pertempuran. Hal ini juga yang dilakukannya terhadap Italia mengenai Venesia. Hubungan Prussia dengan Austria pasca Perang 1866 ini tidak membawa pengaruh yang buruk. Hal ini dibuktikan dengan dibentuknya Liga Tiga Kaisar (Dreikaiserbund) yang dibentuk pada tahun 1872 sebagai “reinkarnasi” The Holly Alliance pada saat revolusi Eropa. Kemudian diperbarui lagi pada tahun 1881. Dalam hubungannya dengan Austria sendiri, Prussia membantu Austria untuk meredakan kaum Slavic di wilayah Serbia dengan dibentuknya Dual Alliance pada tahun 1879. Kemudian dibentuk lagi aliansi Triple Alliance, Austria-Prussia-Italia pada tahun 1882 dan berlanjut hingga Perang Dunia I. Sementara Austria juga masih berada di pihak Jerman di awal Perang Dunia II. Di sinilah keunikan Sejarah Eropa. Tidak ada teman yang abadi, tidak ada musuh yang abadi, yang ada adalah upaya untuk mencapai kepentingan.

 

Daftar Pustaka

 

Baldwin, Marshall., Cole, Charles. & Hayes, Carlton. (1949). History of Europe. New York: The Macmillan Company.

Taylor, A.J.P. (1954). The Struggle for Mastery in Europe 1848-1918. Oxford: Clarendon Press. 

Poesponegoro, Marwati. (1982). Tokoh dan Peristiwa dalam Sejarah Eropa. Jakarta: Penerbit erlangga., hal. 19-20. 

 

 

            Referensi Online

Austro-Prussian War. Dari http://en.wikipedia.org/wiki/Austro-Prussian_War. Diakses pada 3 Januari 2011.

Edwin Freiherr von Manteuffel. Dari http://en.wikipedia.org/wiki/Edwin_Freiherr_von_Manteuffel. Diakses pada 3 Januari 2011

Helmuth von Moltke the Elder. Dari http://en.wikipedia.org/wiki/Helmuth_von_Moltke_the_Elder#Austro-Prussian_War. Diakses pada 3 Januari 2011.

Ludwig von Benedek. Dari http://en.wikipedia.org/wiki/Ludwig_von_Benedek#Austro-Prussian_War. Diakses pada 3 Januari 2011.

Otto von Bismarck. Dari http://en.wikipedia.org/wiki/Otto_von_Bismarck. diakses pada 3 Januari 2011.

 

 


[1] Poesponegoro, Marwati. (1982). Tokoh dan Peristiwa dalam Sejarah Eropa. Jakarta: Penerbit erlangga., hal. 19-20.

[2] Austro-Prussian War. Dari http://en.wikipedia.org/wiki/Austro-Prussian_War. Diakses pada 3 Januari 2011.

[3] Sumber utama: Taylor, A.J.P. (1954). The Struggle for Mastery in Europe 1848-1918. Oxford: Clarendon Press. 

[4] Otto von Bismarck. Dari http://en.wikipedia.org/wiki/Otto_von_Bismarck. diakses pada 3 Januari 2011.

[5] Edwin Freiherr von Manteuffel. Dari http://en.wikipedia.org/wiki/Edwin_Freiherr_von_Manteuffel. Diakses pada 3 Januari 2011

[6] Helmuth von Moltke the Elder. Dari http://en.wikipedia.org/wiki/Helmuth_von_Moltke_the_Elder#Austro-    Prussian_War. Diakses pada 3 Januari 2011.

[7] Taylor, A.J.P. Op. cit.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Ludwig von Benedek. Dari http://en.wikipedia.org/wiki/Ludwig_von_Benedek#Austro-Prussian_War. Diakses pada 3 Januari 2011.

[11] Baldwin, Marshall., Cole, Charles. & Hayes, Carlton. (1949). History of Europe. New York: The Macmillan Company.

[12] Taylor, A.J.P. Op. cit.

[13] Ibid.

[14] Ibid.

[15] Ibid.

[16] Ibid.

[17] Ibid.

[18] Ibid.

[19] Ibid.

[20] Ibid.

[21] Ibid.

[22] Ibid.

[23] Ibid.

[24]  Baldwin, Marshall., Cole, Charles. & Hayes, Carlton. Op. cit. hal. 815.

[25] Ibid., hal. 816.

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s