Perbedaan antara Euro Zone dan Non Euro Zone

Dengan adanya perbedaan antara Euro Zone dan non Euro Zone mencerminkan kelemahan Uni Eropa. Karena adanya single currency unit merupakan salah satu tujuan dari integrasi Uni Eropa. Integrasi Uni Eropa yang pada mulanya ditujukan dalam hal integrasi ekonomi melalui  pasar tunggal menghendaki adanya satu alat tukar tunggal, yaitu Euro. Namun rupanya hal ini belum sepenuhnya tercapai, bahkan beberapa negara menolak Euro sebagai unit mata uang tunggal. Hal ini jelas menunjukkan kelemahan Uni Eropa.

            Mungkin dilihat dari sisi Demokrasi, Uni Eropa telah mampu memberikan ruang bagi “rakyat”-nya untuk menerima ataupun menolak Euro. Namun, adanya negara-negara yang menolak Euro sebagai single currency unit di benua tersebut, dan secara sistem domestik, menunjukkan kelemahan dari Uni Eropa sendiri untuk bisa mewujudkan cita-cita Eropa yang terintegrasi. Negara-negara Eropa memang berbeda-beda dan beraneka ragam. Baik dalam hal budaya, agama, yang membuat mereka merasa lebih terikat dengan negara-bangsa (nation state) mereka. Hal ini juga meliputi permasalahan ekonomi di negara masing-masing.

            Kebijakan yang dilakukan oleh Parlemen Uni Eropa untuk menetapkan Euro sebagai mata uang tunggal serta dalam sistem currency unit menimbulkan respons yang berbeda-beda dari rakyat Uni Eropa. Padahal, menurut teori neo-fungsionalisme untuk menjalin sebuah kerjasama ataupun pengintegrasian adalah dimulai dengan upaya-upaya kerjasama yang non politis. Untuk menghindari kecurigaan yang pada awalnya diwarnai dengan konflik. Isu non politis tersebut kemudian dapat dialihkan menjadi bentuk kerjasama ekonomi. Integrasi ekonomi merupakan salah satu langkah Uni Eropa untuk mencapai unifikasi negara-negara di Eropa.

            Namun, cita-cita Uni Eropa bukan hanya dalam integrasi ekonomi maupun pasar tunggal saja. Cita-cita Uni Eropa adalah menyatukan Eropa dalam segala aspek kehidupan negara-negara yang ada di benua Eropa. Integrasi Politik merupakan tujuan akhir yang sebenarnya ingin dicapai oleh Uni Eropa. Tetapi bagaimana Uni Eropa bisa mencapai tujuan akhir tersebut, apabila dalam pengintegrasian ekonomi saja mereka masih belum bisa bersatu. Hal ini jelas menunjukkan kelemahan Uni Eropa sebagai bentuk negara Supranasionalis.

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s