Permasalahan Enlargement Uni Eropa Khususnya dilihat dari segi Ekonomi-Politik Uni Eropa

 

            Kerjasama Regional negara-negara yang berada di kawasan Eropa yang tergabung di dalam Uni Eropa memang memiliki kelebihan tersendiri. Sehingga tidak mengherankan apabila banyak negara-negara Eropa yang belum tergabung dalam Uni Eropa berkeinginan untuk masuk ke dalam kerjasama regional tersebut. Misalnya saja Turki, Serbia, Kroasia, ataupun negara-negara peripheri bekas jajahan Rusia dulu. Saat ini jumlah negara anggota Uni Eropa  berjumlah 27 negara, dengan 6 negara inti sebagai pendiri utama Uni Eropa. Banyaknya negara-negara yang juga ingin bergabung dalam kesatuan Uni Eropa memberikan pilihan bagi Parlemen Eropa untuk melakukan Enlargement terhadap negara-negara di sekitar wilayah Eropa.

            Namun, adanya upaya enlargement  ini tidak hanya akan membawa keuntungan bagi negara-negara Eropa yang akan bergabung, tetapi juga membawa permasalahan bagi Uni Eropa sendiri. Sebagai upaya Uni Eropa dalam mengintegrasikan negara-negara yang menjadi anggota Uni Eropa. Permasalahan ini terutama menyangkut permasalahan Ekonomi dan Politik di dalam Uni Eropa. Dengan bergabungnya negara-negara baru ke dalam Uni Eropa, maka setidaknya ada 4 hal yang mungkin akan menjadi masalah. Keempat hal tersebut menyangkut aktifitas Uni Eropa (Activity), kelembagaan Uni Eropa (Institution), negara-negara yang baru masuk (Enlargement New States), dan negara-negara inti (Pre-enlargement Member States) ataupun negara-negara besar yang sudah tergabung dalam Uni Eropa.

            Masuknya negara-negara baru ke dalam Uni Eropa juga membawa permasalahan sendiri bagi Uni Eropa. Mengingat aktifitas atau kegiatan yang dimiliki oleh Uni Eropa juga terus bertambah. Mulai dari kegiatan seperti European Defence Community, Western European Union, European Defence Community sampai kegiatan seperti pertanian (CAP/Common Agriculture Policy),  perikanan, perkebunan, dan lain sebagainya. Semakin banyaknya kegiatan (actifity) yang ada di dalam Uni Eropa, apalagi bila ditambah dengan adanya negara-negara yang baru masuk ke dalam Uni Eropa memberikan tantangan terhadap Uni Eropa dalam pengintegrasian. Negara-negara yang baru saja masuk akan membutuhkan penyesuaian-penyesuaian untuk bisa terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut.

            Namun, permasalahan enlargement juga akan membawa permasalahan lain lagi bagi Uni Eropa, khususnya dalam bidang institusi. Di dalam Uni Eropa sendiri, masih ada negara-negara tertentu yang belum menyetujui kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Uni Eropa. Misalnya saja kebijakan EMU (European Monetary Union) yang menjurus pada pemberlakuan Euro dan Central Bank of Europe. Institusi ekonomi semacam ini memerlukan integrasi kebijakan dari lembaga politik. Kemudian, untuk melegitimasikan kedua hal tersebut dibutuhkan legalitas dalam menyokong dua institusi tersebut.

            Permasalahan semacam ini mungkin saja membuat Uni Eropa bersikap alot dalam menerima anggota baru sebagai enlargement. Sedangkan hal ini mungkin saja membuat negara-negara di luar Uni Eropa yang ingin bergabung di dalamnya beranggapan adanya United States of Europe. Karena adanya European Fortress (Benteng Eropa). European Fortress mungkin saja tidak terbukti.Tapi negara-negara Eropa lainnya yang berada di luar Uni Eropa—yang sebenarnya juga ingin ikut bergabung di dalamnya bisa saja menganggap adanya eksklusivitas di dalam Uni Eropa.

            Selain itu, permasalahan anggota baru sendiri juga menimbulkan permasalahan. Adanya negara-negara anggota baru (new member states) dapat menimbulkan disparitas dan kesenjangan dengan negara-negara yang sudah settle di dalam Uni Eropa. Terlebih lagi apabila ideologi dasar yang berbeda menjadi hambatan dalam hubungan kerjasama negara-negara tersebut. Selain itu, menurut teori Ernst Haas, dalam teori regionalisme, semakin banyak persamaan di antara negara-negara yang tergabung dalam sebuah regionalisme, maka mereka akan semakin mudah bekerja sama. Demikian pula, semakin banyak dan bervariasi negara-negara yang tergabung dalam suatu regionalisme maka akan semakin sulit untuk bekerja sama.

            Selain permasalahan yang ditimbulkan oleh negara-negara anggota baru (new member states), negara-negara Memberstates Pre-enlargement seperti Belgia, Jerman, Prancis, Italia, Luxemburg, dan Belanda juga mungkin menimbulkan permasalahan.  Ada kecenderungan dari negara-negara tersebut untuk mendominasi sebagai negara-negara inti (Core States). Adanya dominasi ini juga dapat diikuti dengan dominasi kepentingan dari negara-negara tersebut. Meskipun kecenderungan dominasi kepentingan di dalam instusi-institusi Uni Eropa tidak terlihat. Namun, dalam beberapa hal seperti pengambilan keputusan di Dewan Uni Eropa; Jerman, Inggris, Prancis, dan Itali memiliki hak bobot suara paling besar (10) di antara negara-negara anggota Uni Eropa lainnya.

 

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s