Power dalam Kerjasama Internasional: Beyond Hegemonic Stability

Di dalam sebuah kerjasama internasional, biasanya ada semacam hegemon yang biasanya merupakan negara besar atau setidaknya memiliki posisi bargaining yang kuat dalam rezim kerjasama internasional tersebut. Sedangkan ada negara-negara yang lemah yang memperjuangkan kepentingan mereka dalam suatu rezim kerjasama internasional yang berlainan dengan negara-negara hegemonik tersebut. Lantas bagaimana negara-negara kecil tersebut dapat memperjuangkan kepentingannya dalam forum kerjasama internasional?

            Pembahasan Power dalam Kerjasama Internasional membahas mengenai hal tersebut yakni Power dalam Kerjasama Internasional: Beyond Hegemonic Stability. Bahwa meskipun negara-negara kecil di dalam suatu kerjasama internasional minor, akan tetapi mereka masih memiliki potential resources untuk memenangkan bargaining dalam kerjasama suatu rezim internasional. Di dalam konsep ini terdapat Young’s Model, Institutional Bargaining dalam kerjasama rezim internasional. Fenomena ini juga bisa menunjukkan bahwa tidak ada hegemonik yang abadi dalam suatu kerjasama rezim internasional.

            Power yang dapat digunakan oleh negara-negara minor untuk bisa dapat memperjuangkan dan memenangkan kepentingan mereka diantaranya:

  1. Power Legitimacy

Kemungkinan pembentukan kesepakatan kerjasama internasional dapat meningkat apabila keadaan yang ada bagi semua negara berada dalam ketidakpastian. Sehingga dalam hal ini dapat dimasukkan pilihan “salient solution” yang memiliki basis legitimasi (akademik, kultural, sosial dll) yang dapat diterima oleh semua negara.

  1. Power of Commitment of Coalition

Kesepakatan dalam kerjasama internasional akan lebih mudah untuk diciptakan apabila terdapat koalisi komitmen dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan serupa. Dengan demikian, dapat mengurangi jumlah parties dan jumlah issue, serta efisiensi keragaman kepentingan yang ada dalam pembahasan kesepakatan. Sehingga kemungkinan kesepakatan lebih mudah untuk dicapai.

  1. Power of Atitude

Power of attitude di dalam politik kerjasama internasional juga sangat diperlukan. Karena di dalam psikologi politik,  sikap “nothing to loose ” dan “playing games attitude ”  merupakan sumber kekuatan dalam interaksi sosial. Salah satu  sumber dari power of attitude ini adalah BATNA (Best Alternative Toward a Negotiated Agreement ). Sumber kekuatan BATNA ini  yaitu ketika ada satu pihak yang  memiliki BATNA lebih baik, sehinga  bisa “memaksakan” konklusi  kerjasama internasional untuk mencapai kesepakatan.

  1. Power of Morality

Power of morality juga dapat dipandang sebagai sebuah nilai universal, yaitu moral. Kesepakatan kerjasama internasional bisa diciptakan dengan cara mereframe kepentingan politik sebagai isu moralitas yang diterima masyarakat global. Meskipun ada kepentingan politis dibelakangnya. Namun, nilai moral dianggap sebagai kekuatan karena ia merupakan nilai universal yang bisa diterima secara luas.

  1. Power of Identity and Identification

Kesamaan identitas atau keberhasilan untuk membangun kesamaan identitas akan menciptakan peluang munculnya kerjasama internasional. Contoh bentuk rezim kerjasama internasional yang dibentuk dari adanya kesamaan ini misalnya ASEAN, OKI dan NATO. Dalam hal ini Power of Identity and Identification juga dapat digunakan sebagai bentuk framing untuk bisa menciptakan sebuah kerjasama internasional. Power ini juga akan berjalan dengan lebih baik lagi apabila ditambah dengan Power of Commitment of Coalition dalam hubungan kerjasama negara-negara, sehingga lebih mudah untuk mencapai kepentingan bersama.

  1. Power of Investment

Kerjasama internasonal bisa  disepakati dalam menit-menit terakhir,  setelah melalui perundingan panjang  dan melehakan, karena setiap negara  merasa sudah lama “berinvestasi”  dalam international regime-making  tersebut dan merasa “sayang” kalau  gagal gara-gara sedikit ganjalan saja. Kadang-kadang hal ini memang sengaja dikondisikan. Sehingga pihak-pihak yang berunding akan merasa “sayang” karena pengorbanan yang telah diberikan (tenaga, pikiran, dan sebagainya). Meskipun kadang-kadang hal ini tidak sesuai dengan kepentingan dasar negaranya. Namun karena apa yang sudah dikeluarkan, maka akhirnya power of investment ini kadang-kadang merupakan cara jitu untuk mencapai kesepakatan. Di dalam teori strategi, hal ini berkaitan dengan The Bad-Money Dilemma.

  1. Power of Persistence

Kesepakatan kerjasama internasonal  bisa terbentuk jika ada “norms entrepreneur ” yang secara konsisten  melakukan persuasi publik global  tentang isu tertentu. Misalnya masalah Global Warming. Pada awalnya banyak pihak yang menentang adanya fenomena-fenomena Global Warming tersebut. Namun karena kegigihan para aktivis lingkungan dalam mengkampanyekan isu tersebut, akhirnya  Global Warming menjadi sorotan bagi masyarakat global. Di dalam kasus ini juga terdapat salah satu aspek dalam hubungan kerjasama internasional, yaitu aspek Knowledge. Dimana terdapat ekspertisi dan akademisi-akademisi yang berperan sebagai aktor dalam ranah ini.

 

            Konsep Power disini nampaknya banyak membahas mengenai Institutional Bargaining yang ditawarkan oleh Young sebagai konsep Young’s Model, yaitu adanya karakteristik dari institutional bargaining diantaranya: 1. Multiple actors and unaminity, 2. Interactive Bargaining, 3. The veil of uncertainty, 4. Problems and approaches, 5. Transnational alliances, 6. Shifting involvement.

 

 

 

 

 

 

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s