Rezim Internasional

Rezim Internasional yang sangat kental dengan paham Neo-Liberalisme sering disebut sebagai Institutionalized Liberalism. Secara umum, ia merupakan Institusi yang merupakan hasil kerjasama negara-negara yang ingin mendistribusikan hak-hak dan kewajibannya melalui adjustment-adjustment yang kemudian bisa menghasilkan harmoni, ataupun konflik. Seperti yang biasa terjadi, Rezim Internasional biasanya memberi privilege-privilege bagi negara-negara maju (pandangan umum tentang perspektif Neo-Liberalisme). Yang merupakan Rezim Internasional misalnya, WTO, World Bank, UNDP, PBB, dan sebagainya. Meskipun begitu, Rezim Internasional tidak hanya di bidang ekonomi, Non-Proliferation Treaty (NPT) di bidang nuklir, SALT & START yang merupakan perjanjian pengurangan senjata pada era Perang Dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Pada intinya kerjasama Rezim Internasional meliputi banyak hal, baik berupa kepentingan, kekuasaan (power), maupun pengetahuan.

 

            Kadang-kadang terdapat kekaburan antara Organisasi Internasional dengan Rezim Internasional. Meskipun Rezim Internasional juga merupakan institusi, tetapi bangunan dari Rezim Internasional lebih bersifat abstrak. Seperti misalnya contohnya, WTO adalah sebuah Rezim Internasional yang juga merupakan Organisasi Internasional. Sementara SALT ataupun START (Strategic Arms Reduction Treaty) antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet juga merupakan Rezim Internasional, tetapi ia bukan merupakan Organisasi Internasional. Di dalam START ataupun SALT jelas terdapat prinsip-prinsip dan norma-norma dalam kerjasama internasional.

 

            Namun meskipun begitu, secara internal terdapat perdebatan mengenai definisi umum apa itu yang dimaksud dengan Rezim Internasional.

Menurut Stephen Krasner, Rezim Internasional adalah seperangkat prinsip-prinsip, norma-norma, aturan-aturan, dan prosedur pengambilan keputusan baik yang secara implisit maupun eksplisit. Namun, pandangan Krasner terhadap definisi ini juga mendapatkan kritikan.

Kemudian pemikiran yang kedua, dari Robert Keohane, yang kemudian bisa lebih diterima sebagai pandangan umum tentang Rezim Internasional karena definisinya yang lebih simpel dan praktikal (working definition). Menurut Keohane, Rezim Internasional adalah institusi dengan aturan-aturan yang terlihat secara eksplisit, yang disepakati bersama, yang membahas seperangkat isu tertentu dalam hubungan internasional. Salah satu contoh Rezim Internasional yang sangat bagus yaitu Kyoto Protocol.

 

            Di samping itu, Rezim Internasional juga dapat dipandang melalui tiga pendekatan, yaitu melalui pendekatan Behavioral, Kognitif, dan Istilah Formal (Formal Terms). Pendekatan yang terakhir adalah apa yang disampaikan oleh Keohane yang mengadvokasikan definisi Rezim Internasional pada sisi yang lebih formal. Ia mengkonseptualisasikan Rezim Internasional sebagai istilah dengan seperangkat aturan yang jelas, disepakati bersama antara aktor-aktor atau pemain-pemain dalam kerjasama tersebut, Rezim Internasional juga membahas isu yang spesifik dalam hubungan internasional. Ada pula pandangan dari Kratochwil dan Ruggie yang menggunakan pendekatan Kognitif dalam memahami Rezim Internasional. Sementara Young memandang Re\im Internasional dalam pandangan Behavioralisme.

 

            Yang jelas, Rezim Internasional dibentuk untuk memfasilitasi hubungan kerjasama dalam membahas isu-isu tertentu dengan seperangkat aturan-aturan yang disepakati bersama-sama.

           

Goods�T >e�= �2* dak mudah secara ekonomis (the consumption of the good is economically feasible)[1]. Negara-negara yang lebih kecil tersebut yang kemudian disebut sebagai Free-Riders dalam masalah ini. Masalah yang nyata muncul berkaitan dengan fenomena ini adalah ketika terjadi Great Depression antara tahun 1920-an akhir dan 1930-an. Dimana pada waktu itu yang tampil sebagai Hegemon adalah Amerika Serikat dan juga Inggris. Masalah yang timbul pada waktu itu adalah superfluity of would-be-free-riders (berlebihannya negara-negara yang ingin menjadi free-riders). Maka kemudian muncullah “kecenderungan sistematik ‘eksploitasi’ Negara besar oleh Negara kecil (a systematic tendency for ‘exploitation’ of the great by the small)”. Maka hal ini pulalah yang sekarang masih sering muncul dalam pendekatan Power dalam rezim internasional.

 

 


[1] Andreas Hasenclever. Theories of International Regimes. 2004. Cambridge University Press: New York.

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s