The Heritage of Colonialism in Africa

 Banyak kekuatan-kekuatan besar di Eropa yang berperan besar dalam masa kolonialisme di Afrika, seperti Inggris, Jerman, Prancis, Belgia, Spanyol, Portugal, dan Italia. Namun Negara yang masih sangat berpengaruh kuat di Afrika sebagai hasil warisan kolonialisme adalah Prancis. Perancis memberikan pengaruh di berbagai aspek kehidupan di Afrika. Mulai dari masalah politik, budaya, ekonomi, dan bahasa.

Topik besar dari “The Heritage of Colonialism” adalah peninggalan warisan kolonialisme di Afrika yang berpengaruh pada kehidupan Afrika sampai saat ini. Bab ini membahas bagaimana pengaruh kolonialisme yang begitu besar masih berada di Afrika. Terutama mengenai batas-batas wilayah antar Negara di Afrika yang diciptakan melalui kolonialisme.

Pembahasan dari sub-sub topic bab tersebut menjelaskan tentang:

“African Colonial Heritage Compared”. Sistem colonial secara keseluruhan mengubah sejarah politik geografi Afrika.  Dalam hal ini, peninggalan system colonial di Afrika sangatlah terlihat sekali. Salah satu contoh peninggalan system colonial yaitu system pemerintahan di Afrika yang menggunakan kekuasaan tunggal di tiap daerah. “Fragmentation Of Africa”. Afrika yang memiliki kelemahan dibidang ekonomi, memiliki jumlah GNP yang lebih kecil dibandingkan Harvard University. Fragmentasi dari kemandirian Afrika tidak muncul sampai Afrika mendapatkan kemerdekaannya.

Negara-negara di Afrika bekerjasama dan membentuk organisasi-organisasi sebagai bentuk untuk menghormati masalah-masalah kemerdekaan, kedaulatan dan integrasi territorial yang satu dengan yang lain. Misalnya OAU (Organization of African Unity) yang dibentuk pada tahun 1963. Kemudian juga disebutkan mengenai Konferensi Berlin yang mengatur tentang cara-cara mengeksploitasi Afrika. Dimana dalam hal ini hanya melibatkan Great Powers tanpa melibatkan perwakilan dari Afrika.

  Sub topic dalam bab ini juga menyebutkan mengenai “The French Connection”. Bahwa pengaruh kolonialisme Prancis berakar kuat di Negara-negara Afrika. Pengaruh ini bahkan melibatkan intervensi Prancis. Intervensi yang paling mencolok adalah intervensi politik, dimana terdapat model autoritarianisme dan pengaruh militerisme. Masalah perbatasan juga berperan besar dalam peninggalan warisan kolonialisme, khususnya berhubungan dengan sumber daya alam. Masalah sumber daya alam khususnya berkaitan dengan masaah krisis ekonomi yang berada di Afrika dan masalah politis. Pada intinya pengaruh kolonialisme berpengaruh besar pada system internasional Afrika yang ada hingga saat ini.

   Pertanyaan penelitian yang kami ajukan adalah:

  • Bagaimanakah peninggalan kolonialisme Prancis di Afrika memengaruhi hubungan antara Maroko dan Aljazair dalam bidang budaya dan bahasa yang sama-sama memiliki basis francophone?
  • Bagaimanakah perbandingan demokrasi di Aljazair, sebagai negara bekas jajahan Prancis, dengan Mesir, sebagai negara bekas jajahan Inggris dalam perkembangannya?
  • Bagaimanakah intervensi Prancis di bidang politik, ekonomi dan militer memengaruhi perkembangan Negara Pantai Gading (Cote d’Ivoire)?
  • Bagaimanakah kolonialisme memengaruhi pemerintahan di Mauritania, sebagai negara bekas jajahan Prancis, dengan Democratic Republic of Congo (DRC) sebagai Negara bekas jajahan Belgia?
  • Apakah kolonialisme memberikan pengaruh terhadap keterlibatan dan peran wanita dalam politik dan pemerintahan di Botswana?
  • Apakah dampak yang ditimbulkan dari masalah perbatasan yang ditetapkan pada masa kolonialisme bagi Republik Demokrasi Kongo (Democratic Republic of the Congo [DRC]) dan Republik Kongo (Republic of the Congo)?

   Kami mengajukan pertanyaan riset tersebut karena kami ingin mengetahui seberapa besarkah pengaruh kolonialisme di Afrika, sehingga mampu memengaruhi kehidupan Afrika. Kami merasa pertanyaan tersebut penting untuk ditanyakan karena warisan kolonialisme berpengaruh besar pada Afrika, terutama pada system internasional Afrika yang ada hingga saat ini.

            Perbandingan yang dapat kami lakukan berkaitan dengan topik Peninggalan Kolonialisme adalah kami ingin membandingkannya dengan Indonesia. Indonesia dulunya juga pernah mengalami kolonialisme namun pengaruhnya tidak begitu besar seperti yang ada di Afrika. Hal ini khususnya dapat dilihat dari perpolitikan yang ada di Afrika. Hingga saat ini Demokrasi di Afrika masih berjalan lambat. Hal ini disebabkan masih adanya system partai tunggal, kepemimpinan yang otoriter, dan masalah inkumben yang diwariskan oleh system kolonialisme. Namun hal tersebut tidak seperti di Indonesia. Dimana system demokrasi di Indonesia jauh lebih baik dari Afrika. Di samping itu, dari segi perekonomian Negara-negara di Afrika masih tergolong miskin. Padahal Afrika kaya dengan sumber alam seperti permata, minyak, emas, gas, batu bara, dan lain sebagainya. Namun perekonomian di Afrika memiliki GNP yang sangat rendah. Sementara perekonomian di Indonesia masih jauh lebih maju jika dibandingkan dengan Afrika. Hal ini berhubungan dengan masalah politik yang tidak stabil dan persoalan korupsi. n tenta�ms���ribusi yang kemudian disebut sebagai “social contract” (kontrak sosial). Kontrak sosial ini kemudian menjadi sebuah bagian kritis tentang nasionalisme.

 

            Nasionalisme sendiri menurut Lipschutz secara umum adalah bentuk kongruen antara “nation” dan “state”, dimana “state” sebuah kesatuan ikatan teritorial yang bersifat juridis, dan “nation” merupakan sekelompok orang yang didefinisikan oleh atribut tertentu yang sama.Lipschutz beranggapan ada dua faktor kognitif yang berperan dalam masalah nasionalisme etnis, pertama mengenai permasalahan ekonomi yang bersifat liberal dalam dunia yang terglobalisasi, serta yang kedua, yaitu adanya faktor sejarah mengenai perbedaan etnis itu sendiri. Lipschutz kemudian mengungkapkan bahwa identitas dalam kaitannya dengan nasionalisme, yaitu menuntut sebuah “state of its own”. Lipschutz juga menambahkan bahwa liberalisme ekonomi memberikan premium pada hak-hak individu dan pembangunan.

            Liberalisme ekonomi juga kadang diiringi oleh liberalisasi politik. Dalam hal ini semua individu bebas berpartisipasi secara equal dalam bidang ekonomi kekuatan politik. Namun, pada kenyataannya di banyak negara, hal ini pada akhirnya dikuasai oleh kelompok dominan yang ditempatkan lebih baik dan mampu untuk mengambil keuntungan dari keadaan yang diciptakan dari liberalisasi ekonomi ini. Sebagai hasilnya adalah ketidakpuasan yang timbul diantara kelompok-kelompok yang merasa tidak diuntungkan, yang identitasnya sering didefinisikan dalam istilah etnik dan sektarian dan kemudian menjadi “alat” untuk membentuk “state of their own”.

            Dalam hal ini kemudian dikenal apa yang disebut sebagai Political Entrepeneurs, yang mencoba untuk memobilisasi massa dalam mendukung perjuangan mereka dengan elit yang lain untuk kekuatan politik, status sosial, dan sumberdaya ekonomi. Lipschutz kemudian menegaskan apa yang dimaksud dengan Political Entrepeneurs, konsep ini datang dari teoris pilihan rasional yang berpendapat bahwa hanya individu-individu yang dapat menyediakan insentif yang sesuai kepada anggota kelompok potensial akan mampu untuk memobilisasi massa sebagai the followers. Dalam bagian lain, Lipschutz menyebutkan bahwa  Political Entrepeneurs dengan sangat baik dilakukan oleh orang-orang yang mampu mengembangkan atau membawa “cerita” yang masuk akal tentang bagaimana dan mengapa keadaan sosial tertentu terjadi dan apa yang harus dilakukan untuk “memperbaiki” keadaan tersebut.

 

            Sebagai intinya, Lipschutz mengungkapkan analisa kerangka kerjanya bahwa penyebab konflik etnis dan sektarian adalah masalah “struggle for state power” yang memperebutkan pengaruh kekuatan politik, status sosial dalam masyarakat, serta kekayaan ekonomi, yang mana masalah etnisitas maupun identitas digunakan sebagai cognitive frameworks untuk memobilisasi massa. Menurut Lipschutz permasalahan ekonomi yang terliberalisasi dan fenomena globalisasi merupakan salah satu penyebab fragmentasi nasional, serta ditambah dengan faktor sejarah. Liberalisasi ekonomi ini seringkali diiringi dengan liberalisasi politik yang seringkali didominasi oleh kelompok mayoritas. 

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s