EU Enlargement

Turki, Kroasia, dan Makedonia merupakan negara-negara yang menjadi calon penambahan wilayah (accession) dari Uni Eropa. Sesuai dengan misi Unia Eropa: Widening and Deepening, semestinya ketiga negara tersebut dapat ikut masuk ke dalam kesatuan Uni Eropa. Akan tetapi, Uni Eropa perlu menelaah rencana keberadaan ketiga negara-negara tersebut di dalam wilayah kawasan, terutama mengenai “pengaruh buruk” ketiga negara tersebut bagi Uni Eropa. Kurang lebih sejak kisaran tahun 2005, negara-negara tersebut telah berupaya untuk melakukan aksesi diri ke dalam kesatuan Uni Eropa. Akan tetapi, hingga saat ini badan-badan Uni Eropa masih membicarakan dan mempertingkan ketiga negara tersebut. Ada berbagai pertimbangan mengenai keberadaan negara-negara tersebut bagi Uni Eropa.

Masalah utama yang dihadapi Kroasia adalah mengenai Reformasi Fiskal dan Strukturalnya yang sangat buruk akibat resistensi tajam dari publik serta kurangnya dukungan yang kuat dari para politisinya (lack of strong support from politicians). Padahal, jika Kroasia ingin meng-aksesi-kan diri dengan Uni Eropa, maka hal pertama yang harus ia benahi adalah mengenai reformsi struktural dan reformasi fiskal negaranya. Selain itu, Kroasia sendiri berselisih dengan Slovenia—yang notabene merupakan anggota UE sejak tahun 2004[1]—mengenai status claim ZEE yang dilakukan oleh Kroasia di perairan Laut Adriatik. Selain itu, dari segi keamanan, wilayah ini merupakan tempat transit perdagangan maritim Kokain dari Amerika Latin menuju Eropa Barat[2].

Sedangkan permasalahan yang dihadapi oleh Makedonia juga kurang lebih sama serupa. Sejak awal berdirinya negara ini dari persemakmuran Yugoslavia di tahun 1991, terjadi perselisihan dengan Yunani menyangkut nama serta bendera Makedonia yang bersifat Hellenic (Yunanis). Dengan adanya perselisihan tersebut, Yunani sempat mengembargo perekonomian Makedonia pada tahun 1995 dan perselisihan tersebut masih terus berlanjut hingga sekarang[3]. Padahal Yunani termasuk sebagai negara yang lebih dahulu masuk ke dalam European Community, yaitu pada tahun 1981[4]. Aksesi diri yang dilakukan oleh Makedonia untuk bergabung dengan Uni Eropa bisa saja terhambat dengan adanya kasus tersebut.

Sama halnya dengan negara-negara lepasan Yugoslavia lainnya, perekonomian Makedonia tergolong rapuh jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi sebagian besar negara-negara Eropa. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi Makedonia di tahun 2009 ini hanya sebesar 3%. Oleh karena itulah, negara ini tidak berhasil menarik investor asing dan melahirkan semakin banyak pengangguran di negara tersebut. Di tahun 2009 diperkirakan angka pengangguran di Makedonia mencapai 35%. Oleh karena adanya instabilitas ekonomi tersebut, maka bukan tidak mungkin hal ini akan memberikan ancaman bagi keamanan di Makedonia dan dapat semakin menghambat aksesinya dengan kesatuan UE. Ditambah lagi perselisihan dengan Yunani yang semakin memperkeruh keadaan. Makedonia juga menjadi mayor transshipment point bagi perdagangan Heroin dari Asia Barat Daya serta permasalahan money-laundering akibat lemahnya sistem enforcement[5].

Kemudian, menyangkut masalah Turki. Berdasarkan prinsip Kohesivitas, bahwa suatu kesatuan akan mengalami kohesi atau daya lekat yang baik apabila—dari salah satu prinsip tersebut—terdapat kesamaan identitas antar anggota-anggota dalam satu unit kesatuan. Di sini, mungkin hal yang tidak dimiliki oleh Turki terhadap kesatuan Uni Eropa adalah kesamaan agama. Negara Turki merupakan negara yang ”terbelah”. Sebagian wilayah negaranya ada di kawasan Eropa, akan tetapi sebagian (besar) lagi ada di kawasan Timur Tengah. Penduduk Turki mayoritas Muslim, walaupun bersifat sekularis. Namun, justru di sinilah permasalahnnya berada. Terdapat perdebatan antara pihak yang pro Islamis dengan pemerintahan yang bersifat sekularis. Hal tersebut sudah terlihat sejak tahun 90-an. Terbukti dengan adanya ketidakstabilan dan adanya Intermittent Millitary Coups pada tahun 1960, 1971, dan 1980;  Post-Modern-Coup-Islamic Oriented Government di tahun 1997; serta pemberontakan (separatis) suku Kurdidi tahun 1984. Hingga saat ini, potensi pemberontakan serta  aksi ekstrimis sayap kiri masih merupakan ancaman serius bagi keamanan domestik Turki[6]. Ancaman keamanan domestik saja masih begitu besar dalam lingkup intern Turki, apalagi jika nantinya Turki bergabung langsung dengan Uni Eropa. Bukan tidak mungkin persoalan yang ada akan menjadi semakin kompleks.

Selain itu, kondisi perekonomian Turki yang buruk juga patut menjadi pertimbangan bagi Uni Eropa. Turki mengalami defisit dan hutang luar negeri yang tinggi (high deficit and high external debt) di dalam anggaran negaranya. Defisit Turki tahun 2008 diperkirakan sekitar $11,7 millyar dengan Public debt 37,1% dari GDP, dan External debt sebesar $294,3 millyar. Hal tersebut diperparah dengan adanya Krisis Global yang mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang memberikan Turki lebih banyak indikator-indikator ekonomi negatif di tahun 2009. Pertumbuhan GDP Turki setiap tahun juga semakin turun. Diperkirakan pertumbuhan GDP di tahun 2006 sebesar 6,9%; turun drastis di tahun 2007 menjadi 4,6%; dan menjadi 1,5% di tahun 2008. Kenyataan-kenyataan ini membuat para investor asing enggan menanamkan modalnya di Turki[7]. Hal-hal tersebut membuat perekonomian Turki semakin rapuh (vulnerable). Dengan adanya kerapuhan tersebut, maka bukan tidak mungkin akan tercipta sebuah instabilitas ekonomi yang akan berdampak negatif pada sistem politik di Turki. Kemungkinan ini diperburuk lagi dengan adanya potensi ancaman separatis dan aksi para ekstrimis, serta posibilitas desparasi dari rakyat.

Di samping itu, letak Turki yang dikelilingi oleh lautan (Laut Hitam, Laut Mediterrania, Laut Ageia, dsb.), menjadikannya rute yang strategis bagi jalur perdagangan, utamanya perdagangan narkoba. Turki memegang peranan kunci sebagai rute transit Heroin dari Asia Barat Daya ke wilayah Eropa Barat, bahkan AS. Selain Heroin terdapat jenis narkoba lainnya seperti Morphine dan Opium. Satu hal lain yang sangat sulit diberantas di Turki adalah mengenai money-laundering[8].

 


This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s