Hambatan Nontarif

Dalam perdagangan internasional biasanya dikenal hambatan berupa tariff. Namun, di samping tarif sebenarnya ada banyak hambatan lain yang disebut hambatan nontarif (nontariff barriers), diantaranya: quota impor, Voluntary Export Restraints (VERs), International Comodity Agreements (ICAs), International Cartels, Local Content Requirement, Border Tax Adjustments, Dumping dan Subsidi Ekspor.

            Quota impor merupakan pembatasan jumlah/kuantitas barang/produk yang boleh masuk ke suatu negara. Biasanya dilakukan oleh negara-negara berkembang untuk melindungi industri domestiknya. Namun, karena jumlahnya dibatasi, maka ia menjadi langka. Sehingga, harganya di negara pengimpor dinaikkan menjadi lebih mahal, seperti sistem tarif. Namun bedanya, sistem tarif mungkin mendatangkan pemasukan bagi pemerintah negara tujuan, sedangkan quota tidak

            Voluntary Export Restraints (VERs), merupakan perjanjian bilateral antara negara pengekspor dengan negara pengimpor terhadap suatu komoditas tertentu. Negara pengekspor akan setuju untuk membatasi ekspor ke negara pengimpor. Karena suplai barang yang ada dibatasi, maka harga barang tersebut—di negara tujuan—akan dinaikkan. Sebenarnya industri-industri import-competing yang memaksa pemerintahnya untuk melakukan hal tersebut, dengan tujuan untuk mengurangi persaingan.

            International Comodity Agreements (ICAs), merupakan perjanjian yang dilakukan oleh negara penghasil (producting) dengan negara pengguna (consuming) barang/produk yang diatur untuk menstabilkan harga dunia dari suatu komoditas tertentu terutama dalam soal surplus. Perjanjian ini ditujukan untuk menghindari fluktuasi harga yang besar ketika komoditas tersebut sedang surplus dan ketika komoditas tersebut sedang tidak surplus atau mengalami kelangkaan. Tipe yang paling umum adalah Buffer Stocks. Buffer stocks memasang harga minimum dan harga maksimum atas suatu komoditi untuk dapat dipertahankan secara berkelanjutan oleh pembelian atau penjualan dari stok sentral suatu komoditi.

               Ketiga, International Cartels. International cartels merupakan sekelompok perusahaan yang berlokasi di negara yang berbeda-beda, atau sekelompok pemerintah yang setuju untuk membatasi perdagangan dalam sebuah komoditas. Cartel sebenarnya merupakan perpanjangan dari sistem monopoli domestik ke arena internasional. Oleh karena itu,  international cartels hanya melibatkan suplaier tunggal.  Iadirancang untuk membatasi suplai komoditas, menaikkan harga komoditas, ataupun mengalokasikan pasar. Contoh  international cartels adalah OPEC dalam perdagangan minyak dunia. Kemampuan cartel untuk menaikkan harga biasanya dikarenakan terbatasnya ketersediaan barang substitusi dari komoditas tersebut.

             Di samping itu, masih ada Local Content Requirement, Border Tax Adjustments, Dumping dan Subsidi Ekspor. Local Content Requirement menspesifikasi porsi minimum dari suatu produk yang harus diproduksi secara domestik. Kebijakan ini menawarkan proteksi kepada produsen (producer) domestik. Border Tax Adjustments  menyangkut soal  potongan harga ekspor dan pajak tak langsung domestik. Biaya ekspor dipotong, namun sebagai gantinya pajak dikenakan langsung kepada produk. Sehingga dengan kata lain, individu yang membeli produk tersebut yang akan menanggung beban pajak produk tersebut. Sistem dumping  merupakan sistem dimana penjualan suatu komoditi keluar negeri lebih murah ketimbang harga komoditi tersebut di dalam negeri sendiri. Sistem dumping juga berkaitan dengan subsidi ekspor. Yang merupakan pembayaran oleh pemerintah kepada perusahaan domestik untuk tiap unit produk yang di ekspor. Sehingga harga barang ekspor yang dijual nantinya dapat lebih murah. Sistem dumping sebenarnya ditujukan untuk memonopoli pasar luar oleh si negara pengekspor. Namun hal ini dapat membahayakan bagi produk lokal negara tujuan.

            Sebenarnya, hambatan tarif lebih memiliki beberapa keuntungan ketimbang hambatan nontarif. Pertama, ia hanya mengubah mekanisme pasar, sedangkan hambatan nontarif mengubah pasar secara keseluruhan. Kedua, tarif lebih transparan, ia jelas dan visible to all. Sedangkan hambatan nontarif sering melalui perangkat-perangkat tersembunyi. Hambatan nontarif lebih berbahaya daripada hambatan tarif. Ia bahkan dapat merusak sistem pasar. Meskipun demikian, hambatan nontarif tersebar luas di berbagai negara.

            Hambatan tarif yang sangat berbahaya misalnya Quota dan Voluntary Export Restraints.  Jumlah (kuantitas) barang yang masuk dibatasi secara absolut, kemudian harga jualnya di dalam negeri dinaikkan seperti sistem tarif. Hal ini lebih berbahaya lagi apabila producer domestic-nya  monopolis. Sistem quota dilarang oleh WTO karena membahayakan. Sehingga sistem VERs–yang merupakan perjanjian bilateral dan berada diluar konsep WTO—sekarang lebih umum digunakan oleh negara-negara.  Walaupun VERssama membahayakannya dengan sistem quota.

            Meskipun demikian, ada alasan-alasan valid bagi pemerintah untuk intervensi di dalam perdagangan, misalnya dalam bentuk strategi kebijakan perdaganganyang berupa subsidi ekspor dan proteksi impor. Namun, karena implementasi dari kebijakan tersebut masih berupa teka-teki, sehingga pasar bebas masih membutuhkan rekomendasi kebijakan yang lebih aman. 

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s