Hubungan AS dengan Negara-Negara Timur Tengah Berkaitan dengan Isu Politik, Hukum, dan Keamanan

Pemerintah Amerika Serikat telah sejak lama memberlakukan prinsip politik standar ganda terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah. Negara-negara kawasan Timur Tengah yang menjadi fokus utama kami adalah negara-negara di kawasan Asia Barat Daya, yaitu berupa daratan yang terletak di sekitar Laut Arab, Teluk Persia, Laut Kaspia, dan Laut Merah. Politik Standar Ganda berupa inkonsistensi yang berlaku dalam arah kebijakan Politik Luar Negeri amerika Serikat. Penerapan Politik Standar Ganda ini misalnya dapat dilihat dari hubungan antara AS dengan Israel yang cenderung kooperatif; dibandingkan dengan hubungan antara AS dengan Iran yang cendeerung bersifat offensif.  Penerapan prinsip politik Standar Ganda ini berada dalam fokus yang berbingkai Politik, Hukum, dan Keamanan. Baik bagi pemerintah AS sendiri terkait  dengan  masalah dalam negerinya sendiri, maupun bagi negara-negara di kawasan Timur Tengah dengan mayoritas penduduk Muslim dan memiliki sumber energi potensial berupa minyak bumi. Hal ini seperti yang pernah diungkapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon, pada masa pemerintahannya yaitu sekitar tahun 1969-1974. Nixon mengatakan bahwa “Siapapun yang menguasai kawasan Teluk Arab dan Timur Tengah, maka ia akan menguasai dunia, dan suatu hari nanti Teluk Arab akan merasakan kemakmuran yang luar biasa”.

            Hubungan AS dengan negara-negara di Timur Tengah tersebut memiliki corak warna tersendiri. Hubungan ini kadang bersifat fluktuatif, tergantung pada kepentingan yang dimiliki oleh masing-masing pihak serta rezim yang sedang berkuasa.  Hal ini mungkin dapat dilihat dari fenomena hubungan antara Amerika Serikat dengan Iran pada masa pemerintahan Reza Pahlevi sebelum bergejolaknya Revolusi Islam Iran.  Sehingga, didapatkan hubungan antara pemerintah AS dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah, khususnya di bidang Politik, Hukum, dan Keamanan berupa hubungan yang dinamis dan fluktuatif. Kadang bisa mencapai titik tertinggi ataupun mencapai titik depresi yang paling rendah. Tergantung pada kepentingan masing-masing pihak dan rezim yang sedang berkuasa, apakah mampu dan mau berkolaboratif dengan kepentingan-kepentingan Amerika Serikat atau justru bersifat offensif antara yang satu dengan yang lainnya.

           

            Sudah disebutkan pada paragraf sebelumnya, bahwa arah kebijakan Politik Luar Negeri Amerika Serikat terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah dipengaruhi oleh kepentigan AS di kawasan tersebut. Kepentingan AS yang paling utama di kawasan Timur Tengah berupa sumber energi minyak bumi. Sampai saat ini minyak bumi masih dianggap sebagai sumber energi yang paling potensial bagi kebutuhan energi di dunia. Namun, permasalahan minyak bumi bukan hanya mengenai permasalahn ekonomi, tetapi juga mengenai permasalahn politis. Permasalahn minyak bumi bisa menjadi perebutan pengaruh terhadap sistem perpolitikan global. Hal ini persis seperti apa yang dikatakan oleh Presiden Nixon bahwa “Siapapun yang menguasai kawasan Teluk Arab dan Timur Tengah, maka ia akan menguasai dunia, dan suatu hari nanti Teluk Arab akan merasakan kemakmuran yang luar biasa”. Hal ini dikarenakan kawasan Timur Tengah memiliki cadangan minyak mentah yang begitu besar sebagai cadangan minyak utama dunia. Pada tahun 2009, tercatat cadangan minyak di kawasan Timur Tengah kira-kira mencapai 755 miliar barrel atau sekitar 61% dari cadangan minyak dunia[1]. Dengan permintaan minyak mentah dunia yang saat ini mencapai 84.24 juta barrel per hari,[2] maka diproyeksikan cadangan minyak di Timur Tengah masih dapat digunakan hinga dua puluh tahun ke depan. Dengan cadangan minyak dunia yang masih begitu besar, AS masih enggan melepaskan cokolannya di kawasan tersebut. Orientasi AS terhadap kawasan Timur Tengah tersebut telah membuat AS terus berupaya  mempertahankan dominasinya di kawasan Timur Tengah.

            Dominasi AS di kawasan Timur Tengah tersebut tidak terlepas dari kebijakan Supremasi Militer (Military Supremacy) yang dimiliki oleh AS dalam arah kebijakan Politik Luar Negerinya. Supremasi militer menjadi keharusan bagi negara hegemon seperti Amerika Serikat. Dalam visi pemerintah Amerika Serikat, supremasi militer dicapai melalui keinginan untuk berkonfrontasi secara langsung dengan pihak-pihak yang dianggap mengganggu kepentingan dan mengancam stabilitas dalam negeri. “Peace through strength” menjadi pembenaran bagi Amerika Serikat untuk menerapkan supremasi militer dalam politik luar negerinya. Hal ini menjadi salah satu alat bagi Amerika Serikat untuk mengembangkan PNAC (The Project of The New American Century) dalam bentuk Pax Americana. Di samping itu, pemerintah Amerika Serikat juga menerapkan strategi pre-emptive strike terhadap serangan yang diperkirakan akan masuk dan menyerang AS. Hal ini membuat AS memiliki peran dominasi di kawasan Timur Tengah. Selain itu, aspek War on Terrorism yang dilancarkan AS semenjaka kejadian Black September 9/11 semakin membuat AS gencar melakukan serangan-serangan terutama terhadap negara-negara Timur Tengah yang dicurigai berpotensi untuk melakukan aksi terror terhadap dirinya (AS).

            Penerapan standar ganda merupakan hal yang amat terlihat dalam hubungan Politik Luar Negeri AS terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah. Perlakuan yang berbeda terhadap negara yang satu dengan negara yang lain telah menimbulkan stigma bahwa AS berupaya mencari keuntungan dari kepentingannya terhadap minyak bumi. Perlakuan AS yang berbeda terhadap Israel, dengan membantu negaratersebutdalam hal akomodasi persenjataan, pendanaan, serta dukungan sangat berbeda sekali dengan perlakuan AS terhadap Iran terkait isu nuklirnya. Padahal, Israel sendiri memiliki proyek persenjataan nuklir di kawasan Timur Tengah. Sementara Iran telah berulang kali menyangkal hal tersebut, serta melihat fakta bahwa pengayaan uranium yang dilakukan oleh Iran hanya sekedar 3.7%. Padahal untuk membuat reaktor nuklir dalam proyek persenjataan nuklir, dibutuhkan pengayaan uranium hingga mencapai 90%. Hal tidak beralasan yang dituduhkan oleh AS ini merupakan sejarah panjang yang timbul dari hubungan antara kedua negara, sehingga menimbulkan aksi offensif satu sama lain. Penerapan standar ganda yang dilakukan oleh AS terhadap negara-negara Timur Tengah juga terlihat pada Irak dan Arab Saudi. Arab Saudi sendiri mengalami penerapan Kebijakan Politik Luar Negeri Standar Ganda AS dalam rezim yang berbeda, hampir sama halnya dengan Iran pada masa pemerintaha Reza Pahlevi dengan Ayatollah Khomeini. Namun, motif dari permasalahan standar ganda yang diterapkan oleh AS terhadap arab Saudi lebih mengacu pada permasalahan ekonomi (sumber minyak). Padahal dulunya AS sempat memusuhi Arab Saudi yang membantu Palestina dalam konflik Israel- Palestina di Jerusalem, namun hubungan ini tiba-tiba membaik dan berubah 180 derajat setelah AS dan arab saudi melakukan perjanjian untuk mengadakan eksplorasi minyak di negara tersebut.

            Sehingga, dalam hal ini, pengaruh penerapan standar ganda yang dilakukan oleh AS terhadap hubungannya dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah memiliki pengaruh pada pola hubungan yang amat fluktuatif dan dinamis. Tergantung kepada national interest dan kepentingan negara masing-masing, terutama dari pihak AS sendiri dan bagaimana rezim yang berkuasa di negara-negara Timur Tengah tersebut menyikapi sikap dan kepentigan Amerika Serikat terhadap negaranya. Hubungan AS dengan negara-negara Timur Tengah dengan diberlakukannya Politik Standar Ganda bisa mencapai titik tertinggi yang paling harmonis dalam hubungan antara kedua negara, bisa pula dalam hubungan pertengahan dan tidak ada hubungan kolaborasi yang amat mencolok, atau bisa juga sebagai hubungan yang berada dalam posisi titik kritis yang paling rendah dalam hubungan antara kedua pihak.

 

 

           

 

utan y�Esn����dari warga AS sendiri. Bahkan juga sempat diadakan pameran koleksi batik yang dimiliki oleh ibunda Presiden Obama, Ann Dunham,  yang juga mendapatkan sambutan yang luar biasa[6].

 


[1]    Pengiriman Pasukan Tambahan AS ke Afghanistan Telan Biaya Rp 283 Trilliun. Sinar Indonesia Baru. http://hariansib.com/?p=101444. Dipostingkan oleh redaksi pada 3 Desember 2009.

[2]    AS Kirim 2.500 Tentara Tambahan ke Afghanistan Utara. ANTARA News. http://www.antara.co.id/berita/1269052297/as-kirim-2500-tentara-tambahan-ke-afghanistan-utara. Dipostingkan oleh redaksi pada 20 Maret 2010.

 

[3]    Pengiriman Pasukan Tambahan AS ke Afghanistan Telan Biaya Rp 283 Trilliun. Sinar Indonesia Baru. http://hariansib.com/?p=101444.

[4]             Presiden Obama Akan Jamu Tokoh Muslim Dunia. http://international.okezone.com/read/2010/04/22/18/325275/presiden-obama-akan-jamu-tokoh-muslim-dunia. Dipostingkan oleh redaksi pada 22 April 2010.

 

[5]    Obama Tawarkan Pendekatan Baru bagi Dunia Muslim. Tempo interaktif internasional. http://www.tempointeraktif.com/hg/amerika/2010/04/27/brk,20100427-243651,id.html. Dipostingkan oleh redaksi pada 27 April 2010.

 

[6]    “Kunjungan Presiden Obama untuk Mendeklarasikan Comprehensive Partnership”; dan “RI-AS akan Fokus Pada Peningkatan Kerjasama Ekonomi”. Tabloid Diplomasi: Media Komunikasi dan Interaksi. No. 29 Tahun III. Tgl. 15 Maret-14 April 2010.

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s