Krisis Misil Kuba (The Cuban Missile Crisis)

Kasus krisis misil Kuba terjadi pada era Presiden  John Franklin Kennedy, di bulan Oktober tahun 1962. Di masa itu sedang terjadi situasi memanasnya hubungan antar Amerika Serikat dengan Uni Soviet dalam Perang Dingin (The Cold War). Di mana pesawat mata-mata Amerika Serikat, U-2 menemukan sebuah pencitraan jarak jauh. Mereka mendapati Uni Soviet tengah memasukkan rudal jarak menengah (Medium Range Ballistic Missile) ke Kuba. Terdapat sekitar 32 rudal. Sedangkan rudal-rudal tersebut merupakan rudal dengan jangkauan 1000 mil dengan hulu ledak nuklir 3 megaton. Sementara, moncongnya mengacu ke arah Amerika Serikat. Ini jelas merupakan sebuah ancaman besar bagi pemerintah Amerika Serikat.  

            Dalam kasus Krisis Misil Kuba tersebut, seorang ilmuwan politik yang bernama Graham T. Allison, dalam bukunya yang berjudul The Essence of Decision Making Process menyebutkan, bahwa di dalam kasus krisis misil kuba tersebut, terdapat 3 bentuk model analisa dalam upaya pencapaian keputusan.  Ketiga bentuk model tersebut adalah: Rational Actor Model, Organizational Model, serta Bureaucratic Polity Model.

            Rational Actor Model merupakan model yang berusaha menemukan opsi-opsi yang rasional dengan aktor utama Presiden dan penasihat-penasihat kuncinya (key advisors), beserta orang-orang terdekatnya. Sedangkan Organizational Model merupakan model yang berisi bahwa dalam setiap struktur (hirarkis) atau departemen selalu ada Standard Operational Procedure (SOP). Dimana, tidak perlu menunggu perintah dari Presiden, karena sudah ada SOP yang jelas dalam susunan atau struktur pemerintahan. SOP tersebut dihasilkan dari preseden-preseden yang ada sebelumnya.

            Dalam film “Thirteen Days”, Organizational Model digambarkan dalam situasi yang terjadi di dalam Departemen Pertahanan (Ministry of Defence). Dimana sewaktu kapal perang Uni Soviet telah diperintahkan untuk mundur oleh Angkatan Laut AS, kapal tersebut tidak memedulikannya ataupun menggubrisnya. Maka, berdasarkan aturan yang ada di dalam satuan Angkatan Laut, Laksamana memerintahkan anak buahnya (Kapten kapal Pierce) untuk menembakkan meriam tanda peringatan bagi kapal Soviet tersebut. Aturan ini telah lama digunakan oleh para Angkatan Laut berdasrkan aturan yang telah ditetapkan sebelumnya. Kemudian model yang terakhir, yaitu Bureaucratic Polity Model, yang mana dalam proses pengambilan keputusan ada pengaruh dari berbagai aktor/pihak. Seperti Kongres, suara sipil, angkatan bersenjata, pers ataupun media, forum PBB, dan lain sebagainya.

            Namun, yang menarik perhatian saya di sini adalah, bahwa fokus analisa kebijakan luar negeri dalam film Thirteen Days  menampilkan Rational and Phsychological Aspect of Foreign Policy. Salah satu aspek pembuatan kebijakan luar negeri yang berupa permasalahan Rasional dan Psikologis si pembuat keputusan (decision maker).

            Presiden John F.. Kennedy merupakan tokoh yang sangat halus. Kebijakan Luar Negeri yang ia putuskan dibuat dengan sangat hati-hati dan tidak tergesa-gesa. Sedangkan Uni Soviet merupakan negara yang memiliki karakter keras. Sehingga kongres Amerika berpendapat bahwa langkah terbaik untuk merespon tindakan Uni Soviet adalah dengan kekuatan (force). Rapat kongres yang dilakukan untuk pencapaian keputusan secara dominan menginginkan invasi ke Kuba, sebagai ultimatum untuk melucuti senjata rudal-rudal tersebut.

            Presiden Kennedy, dalam pencapaian keputusan lebih menyukai jalan-jalan yang damai dan tidak tergesa-gesa. Di sinilah aspek rasionalitas yang dikedepankan oleh Kennedy. Dalam rapat Kongres AS kemudian diklarifikasikan pilihan-pilihan atau opsi-opsi yang bersifat rasional (Clarify rational choices). Opsi-opsi tersebut antara lain ada 3, yaitu: Pertama, dengan melakukan langkah serta pendekatan diplomatik (negosiasi). Kedua, langkah yang bisa dilakukan adalah dengan serangan udara terhadap Soviet, sampai mereka menyerah. Sedangkan yang ketiga adalah serangan udara (air strike) diikuti dengan invasi Kuba.

            Kongres kemudian “membumikan” pilihan-pilihan tersebut. Opsi pertama (negosiasi) mustahil untuk dilakukan mengingat karakter negara Uni Soviet. Hal ini seperti yang digambarkan dalam pembicaraan antara Presiden John Kennedy dengan utusan PM Kruschev dari Kremlin. Kennedy menanyakan permasalahan mengenai rudal tersebut. Sedangkan utusan dari Uni Soviet malah menanggapi pertanyaan Kennedy dengan mengatakan bahwa PM Kruschev telah menyatakan tidak ada unsur offensif dari pemasangan rudal tersebut di wilayah Kuba. Yang ada hanyalah upaya defensif. Hal ini jelas-jelas seperti “menampar” wajah Kennedy.

            Kemudian, pilihan yang kedua adalah mengenai serangan udara (air strike). Kennedy mengungkapkan bahwa ada 3 preferensi yang bisa diambil dari pilihan tersebut. Pertama, serangan udara yang terbatas terhadap rudal. Kemudian yang kedua adalah serangan udara terhadap pertahanan udara Uni Soviet. Bila kedua serangan tersebut tidak berhasil, barulah mereka akan mengadakan invasi ke Kuba.

            Namun, menurut salah satu penasihat angkatan bersenjata, kedua serangan itu akan membawa risiko bila tidak langsung diikuti dengan invasi. Di sinilah terdapat aspek rasionalitas yang amat besar dalam pencapaian keputusan Kongres AS terhadap misil Kuba. Akhirnya, Kongres mencoba mengeksplorasi kembali pilihan-pilihan lain yang dianggap mampu membawa risiko paling kecil. Dengan pengajuan saran terhadap Menteri Pertahanan AS dari Pentagon, maka jalan yang ditempuh adalah dengan cara Blokade. Meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama, namun respons dengan jalan blokade diharapkan membawa dampak risiko yang sekecil-kecilnya.

            Selain itu, pada kasus ini juga terdapat berbagai macam bias. Salah satunya adalah karakter Presiden Kennedy yang terkenal sangat hati-hati dalam pengambilan keputusan. Sifat Kennedy ini pulalah yang menimbulkan bias dalam pengambilan kebijakan rasional.  Pemikiran rasionalitas juga dianggap sebagai landasan (cornerstone) dari teori Realisme. Sehingga, tidak heran jika penggunaan kekuatan dianggap sebagai solusi bagi Kongres untuk menangani kasus misil Kuba.

            Kennedy beranggapan bahwa pilihan yang ditawarkan oleh kongres untuk menyerang Kuba dengan serangan udara, yang kemudian diikuti dengan invasi Kuba akan membawa dampak buruk bagi AS. Selain itu, pada awalnya Kennedy juga tidak memiliki keinginan untuk menyerang Kuba lewat udara, apalagi sampai menginvasinya. Di sinilah berlaku bias Inaplicability of Rational Framework to Individual Decision Making. Pembuat keputusan utama (Presiden) tidak dapat melakukan pilihan yang rasional. Sehingga, banyak kecaman yang ditujukan kepada Presiden Kennedy.

            Situasi psikologis Presiden Kennedy juga sangat dipengaruhi oleh orang-orang terdekatnya, termasuk saudara-saudaranya yang duduk di kursi pemerintahan AS, beserta asisten pribadinya yang juga turut mendukung kebijakan Kennedy. Bias psikologis Kennedy juga mendisturbansi sistem Organizational Model yang berlaku dalam satuan Angkatan Laut AS. Ketika Laksamana memerintahkan Kapten kapal untuk menembakkan meriam sebagai isyarat perintah kapal milik Soviet (Grozny) untuk berhenti, Menteri Pertahanan AS (yang juga merupakan orang dekat Presiden) justru menghardik tindakan tersebut. Di sini terdapat Affective Bias yang dipengaruhi oleh emosi. Salah satu alasannya adalah karena Presiden tidak memerintahkan untuk melaksanakan tindakan tersebut. Namun, prosedur tersebut sudah merupakan aturan (SOP) dalam Angkatan Laut.

            Bias dalam hal ini dapat pula tergolong bias Dissonance, atau ketidakcocokan antara perintah dari Presiden dengan SOP yang telah dimiliki oleh Angkatan Laut. Dari sini juga dapat terlihat adanya benturan antara Rational Actor Model dengan Organizational Model. Selain itu, juga terdapat bias Penilaian (Justification) di dalam kasus tersebut. Misalnya, ketika kapal perang AS “mengancam” kapal selam milik Uni Soviet untuk naik ke permukaan, sontak seluruh kapal Soviet berhenti. Bahkan ada beberapa yang berbalik arah. Tentu saja hal ini amat menggembirakan bagi kongres di pemerintahan. Namun, pada saat angkatan laut AS lengah, ternyata ada 1 kapal Soviet yang terus berlayar menembus batas perairan.

            Di samping adanya bentuk-bentuk dari berbagai model dalam pembuatan keputusan serta adanya  aspek rasional dan psikologis dalam proses pembuatan keputusan (decision maker), Krisis Misil Kuba juga sangat diwarnai dengan situasi krisis Perang Dingin. Perang Dingin yang merupakan permasalahan ideologi antara AS, yang bersifat Demokratis dengan Soviet yang bersifat Komunis, turut mewarnai perseteruan antara AS dengan Uni Soviet dalam kasus misil Kuba .

 

ng laS �ea����lkan stigma bahwa AS berupaya mencari keuntungan dari kepentingannya terhadap minyak bumi. Perlakuan AS yang berbeda terhadap Israel, dengan membantu negaratersebutdalam hal akomodasi persenjataan, pendanaan, serta dukungan sangat berbeda sekali dengan perlakuan AS terhadap Iran terkait isu nuklirnya. Padahal, Israel sendiri memiliki proyek persenjataan nuklir di kawasan Timur Tengah. Sementara Iran telah berulang kali menyangkal hal tersebut, serta melihat fakta bahwa pengayaan uranium yang dilakukan oleh Iran hanya sekedar 3.7%. Padahal untuk membuat reaktor nuklir dalam proyek persenjataan nuklir, dibutuhkan pengayaan uranium hingga mencapai 90%. Hal tidak beralasan yang dituduhkan oleh AS ini merupakan sejarah panjang yang timbul dari hubungan antara kedua negara, sehingga menimbulkan aksi offensif satu sama lain. Penerapan standar ganda yang dilakukan oleh AS terhadap negara-negara Timur Tengah juga terlihat pada Irak dan Arab Saudi. Arab Saudi sendiri mengalami penerapan Kebijakan Politik Luar Negeri Standar Ganda AS dalam rezim yang berbeda, hampir sama halnya dengan Iran pada masa pemerintaha Reza Pahlevi dengan Ayatollah Khomeini. Namun, motif dari permasalahan standar ganda yang diterapkan oleh AS terhadap arab Saudi lebih mengacu pada permasalahan ekonomi (sumber minyak). Padahal dulunya AS sempat memusuhi Arab Saudi yang membantu Palestina dalam konflik Israel- Palestina di Jerusalem, namun hubungan ini tiba-tiba membaik dan berubah 180 derajat setelah AS dan arab saudi melakukan perjanjian untuk mengadakan eksplorasi minyak di negara tersebut.

 

            Sehingga, dalam hal ini, pengaruh penerapan standar ganda yang dilakukan oleh AS terhadap hubungannya dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah memiliki pengaruh pada pola hubungan yang amat fluktuatif dan dinamis. Tergantung kepada national interest dan kepentingan negara masing-masing, terutama dari pihak AS sendiri dan bagaimana rezim yang berkuasa di negara-negara Timur Tengah tersebut menyikapi sikap dan kepentigan Amerika Serikat terhadap negaranya. Hubungan AS dengan negara-negara Timur Tengah dengan diberlakukannya Politik Standar Ganda bisa mencapai titik tertinggi yang paling harmonis dalam hubungan antara kedua negara, bisa pula dalam hubungan pertengahan dan tidak ada hubungan kolaborasi yang amat mencolok, atau bisa juga sebagai hubungan yang berada dalam posisi titik kritis yang paling rendah dalam hubungan antara kedua pihak.

 

 

           

 

utan y�Esn����dari warga AS sendiri. Bahkan juga sempat diadakan pameran koleksi batik yang dimiliki oleh ibunda Presiden Obama, Ann Dunham,  yang juga mendapatkan sambutan yang luar biasa[6].

 


[1]    Pengiriman Pasukan Tambahan AS ke Afghanistan Telan Biaya Rp 283 Trilliun. Sinar Indonesia Baru. http://hariansib.com/?p=101444. Dipostingkan oleh redaksi pada 3 Desember 2009.

[2]    AS Kirim 2.500 Tentara Tambahan ke Afghanistan Utara. ANTARA News. http://www.antara.co.id/berita/1269052297/as-kirim-2500-tentara-tambahan-ke-afghanistan-utara. Dipostingkan oleh redaksi pada 20 Maret 2010.

 

[3]    Pengiriman Pasukan Tambahan AS ke Afghanistan Telan Biaya Rp 283 Trilliun. Sinar Indonesia Baru. http://hariansib.com/?p=101444.

[4]             Presiden Obama Akan Jamu Tokoh Muslim Dunia. http://international.okezone.com/read/2010/04/22/18/325275/presiden-obama-akan-jamu-tokoh-muslim-dunia. Dipostingkan oleh redaksi pada 22 April 2010.

 

[5]    Obama Tawarkan Pendekatan Baru bagi Dunia Muslim. Tempo interaktif internasional. http://www.tempointeraktif.com/hg/amerika/2010/04/27/brk,20100427-243651,id.html. Dipostingkan oleh redaksi pada 27 April 2010.

 

[6]    “Kunjungan Presiden Obama untuk Mendeklarasikan Comprehensive Partnership”; dan “RI-AS akan Fokus Pada Peningkatan Kerjasama Ekonomi”. Tabloid Diplomasi: Media Komunikasi dan Interaksi. No. 29 Tahun III. Tgl. 15 Maret-14 April 2010.

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s