Multinational Corporations In The Third World

            Di dalam tulisan berjudul Transnational Corporation and Uneven Development(Jenkins, pg. 5), disajikan sebuah tabel data yang menunjukkan bahwa beberapa Perusahaan Multi Nasional, seperti Exxon, Mobil, Unilever, Toyota Motors, General Electric, Chrysler dan lain sebagainya, pada tahun 1988, memiliki hasil penjualan produk yang melebihi GDP beberapa negara di dunia, terutama Negara Sedang Berkembang/The Third World. Sejak berakhirnya Perang Dunia II, arus investasi langsung memang semakin deras dengan kecepatan yang luar biasa. Pada tahun 80-an, investasi asing langsung (Direct Foreign Investment) tumbuh 28,9% per tahun. Tiga kali lebih cepat daripada pertumbuhan perdagangan dunia, dan telah berperan utama dalam mengintegrasikan ekonomi dunia[1]. Hal ini menunjukkan bahwa satu Perusahaan Multi Nasional besar saja sudah mampu memiliki kekayaan (hasil penjualan) yang lebih besar daripada pendapatan per tahun sebuah negara bangsa. Dengan efisiensi perusahaan yang ketat serta mobilitas internasional yang sangat tinggi, suatu Perusahaan Multi Nasional bukan hanya mampu mengalahkan kekuatan ekonomi suatu negara bangsa, akan tetapi juga mampu mengalahkan kedaulatan negara itu. Mungkin memang benar, jika dikatakan bahwa perusahaan-perusahaan semacam itu kini menjadi Penguasa Baru Dunia ( The New Ruler of The World ).

            Terkadang memang sangat tidak berimbang apabila hanya melihat satu sisi mata uang mengenai dampak negatif yang dibawa oleh suatu Perusahaan Multi Nasional di sebuah negara. Penanaman investasi langsung yang dilakukan oleh Perusahaan Multi Nasional, sebenarnya juga membawa dampak yang positif. Akan tetapi, itu semua bergantung pada keadaan negara penerima itu sendiri. Penanaman investasi   mungkin  dapat menguntungkan, apabila negara penerima juga memiliki kemampuan teknologi yang cukup tinggi serta tenaga kerja profesional.

            Akan tetapi, jarang sekali negara sedang berkembang yang memiliki kemampuan tersebut. Sehingga, apabila dilakukan sebuah pengkajian ulang, kehadiran perusahaan-perusahaan multi nasional (dalam jangka waktu yang lama) justru lebih banyak membawa dampak yang merugikan. Bukan hanya di bidang perekonomian, tetapi juga meliputi bidang-bidang yang lain, seperti isu lingkungan, sosial, budaya, dan lain sebagainya. Tetapi lucunya, negara-negara tersebut justru saling berebut untuk mendapatkan investasi asing tersebut (Foreign Direct Investment ).

            Padahal, belum tentu dampak positif yang dibawa oleh perusahaan multinational tersebut lebih besar daripada dampak negatifnya. Bahkan mungkin seperti yang sering dilontarkan oleh kaum strukturalis radikal, bahwa perusahaan-perusahaan tersebut mengancam kelangsungan hidup suatu negara bangsa. Sebuah prinsip yang tidak hanya didasarkan pada ketakutan belaka, tetapi juga dibuktikan dengan fakta yang ada di lapangan.  Salah satu contoh yang paling ekstrim mungkin seperti kejadian yang terjadi di Somalia. Sebenarnya, beberapa negara sedang berkembang banyak juga yang berusaha untuk membatasi pergerakan perusahaan-perusahaan asing tersebut di dalam wilayah negara mereka. Contohnya adalah common agreement yang dibuat oleh negara-negara Amerika Latin dalam bentuk Pakta Andean (The Andean Pact). Walaupun hasil yang didapatkan ternyata kurang efektif.

            Contoh lainnya yang sangat apik adalah upaya yang dilakukan oleh Jepang dalam membatasi perusahaan multi nasionalasing yang masuk ke dalam wilayah negara mereka. Meskipun Jepang memang bukan  termasuk negara dunia ketiga, namun upaya yang dilakukannya sangat manjur. Jepang memiliki suatu sistem manajemen perusahaan yang dinamakan Keiretsu. Dimana perusahaan-perusahaan tersebut saling dikaitkan menjadi satu kelompok melalui sistem “cross-shareholding” yang ekstensif. Hal ini membuat Perusahaan Multi Nasional asing hampir tidak mungkin untuk bergabung atau membeli perusahaan Jepang yang ada dalam kelompok Keiretsu. Sehingga para anggota keiretsu, yang saling-memiliki saham perusahaan masing-masing dalam jumlah besar, secara kolektif mampu menggagalkan upaya pengambil-alihan oleh pesaing dari luar negeri2.

            Namun, yang membuat saya merasa sangat menyesal, artikel ini kurang menyajikan fenomena Perusahaan Multinasional secara global. Padahal, penanaman modal asing langsung merupakan kegiatan yang dilakukan, terutama diantara negara-negara kaya. Badan PBB yang berfungsi memonitor kegiatan perusahaan multinasional, The United Nations Center for Transnational Corporations (UNCTC), memperkirakan bahwa di akhir tahun 90-an negara-negara ekonomi maju bukan hanya asal (sumber) dari 95% arus  penanaman modal asing langsung, tetapi juga sebagai negara penerima lebih dari 80% DFI tersebut. Ini mungkin menunjukkan kekeliruan pendapat umum yang beranggapan bahwa kepentingan utama perusahaan multinasional adalah mencari lokasi untuk investasi dengan tenaga kerja/buruh paling murah. Namun, di samping itu, ada pertimbangan lain yang lebih penting, yaitu akses kedekatan ke pasar konsumen yang besar dan mengimbangi gerak perpindahan lokasi perusahaan multinasional besar yang menjadi pesaingnya2. Misalnya, ketika perusahaan manufaktur Gianni Versace membuka cabangnya di Paris, maka perusahaan Gucci atau Ralph Laurenjuga membuka akses pasarnya di sana.

            Selain negara-negara ekonomi maju, negara-negara industri yang sedang berkembang, terutama Korea Selatan, Cina, dan Singapura saat ini juga mulai banyak menanamkan investasi langsungnya, di negara-negara Asia. Dengan pangsa pasar yang cukup besar, serta harga barang produksi yang juga mampu dijangkau oleh konsumen di Asia, membuat arus investasi negara-negara industri tersebut semakin lancar. Bahkan, Jepang tidak hanya menjangkau wilayah Asia saja. Sejak dasawarsa 90-an, Jepang sudah “menjamah” perusahaan AS, seperti Rockfeller Center and Columbia Pictures, General Electric, dan lain sebagainya3. Bahkan produk perusahaan Nintendo game pun sudah menjadi “makanan sehari-hari” gamers di Amerika.         

            Dari hal tersebut di atas, bisa disimpulkan bahwa, perusahaan multinasional menggunakan negara dunia ketiga sebagai “ladang” raw, agriculture, and mining material resource serta ongkos tenaga kerja yang semurah-murahnya dan kelapangan undang-undang yang sebebas-bebasnya. Kemudian menjual produknya di pasaran dunia, terutama di negara-negara ekonomi maju. Sehingga diperoleh sumber produksi yang semurah-murahnya dan hasil produksi yang sebesar-besarnya. Dari sini bisa ditarik satu benang merah bahwa, Perusahaan Multi Nasional (raksasa) kini menjadi hegemon baru dalam sistem tata dunia. Di samping kesaktian ekonominya, ia mampu “melumpuhkan” kedaulatan suatu negara bangsa. Banyak contoh yang menunjukkan bahwa perusahaan multinasional berperan besar dalam menggulingkan pemerintahan di suatu negara. Tata dunia baru dalam studi Hubungan Internasional saat ini mungkin mulai bergeser. Dari realisme negara bangsa, menjadi “realisme” Perusahaan Multi Nasional.


[1]    Mas’oed, Mohtar (1997). Perusahaan Multinasional Dalam Ekonomi-Politik Internasional, 4.

2    Diadaptassi dari: Mas’oed, Mohtar (1997). Perusahaan Multinasional Dalam Ekonomi-Politik Internasional, 7.

2              Mas’oed, Mohtar (1997). Perusahaan Multinasional Dalam Ekonomi-Politik Internasional, 5.

3                Mas’oed, Mohtar (1997). Perusahaan Multinasional Dalam Ekonomi-Politik Internasional, 6.

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s