Pergeseran Arah Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat: Kepemimpinan George W. Bush vs Kepemimpinan Barack Obama

            Pada bulan November 2008 Amerika Serikat menggelar pemilu untuk menentukan Presiden Amerika Serikat lima tahun ke depan. Setelah melalui masa kampanye yang cukup panjang, akhirnya publik Amerika Serikat memberikan kepercayaan mereka kepada salah seorang senator dari Illinois, Barack Obama. Barack Obama berhasil terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat menggantikan Presiden yang sebelumnya, George W. Bush. Dengan terpilihnya Presiden Obama pada pemilu tahun 2008, mulai terlihat banyak pergeseran-pergeseran pada arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dulunya di bawah Presiden George W. Bush sangat kental dengan unsur-unsur militeristik, kini di bawah pemerintahan Presiden Barack Obama mulai bergeser kepada isu-isu yang lebih bersifat multilateralisme. Arah kebijakan luar negeri AS yang sebelumnya berada di bawah pemerintahan George W. Bush sangat menonjolkan penerapan instrumen militer ataupun isu-isu keamanan dalam kebijakan-kebijakan politik luar negerinya. Kasus invasi Irak oleh Amerika Serikat di tahun 2003 merupakan salah satu jejak kasus yang ditinggalkan oleh Presiden George W. Bush. Belum lagi pada saat yang bersamaan pula (meskipun dengan intensitas yang lebih kecil) Gedung Putih di bawah Pemerintahan Bush juga mengurusi masalah militan di Afghanistan. Masalah Nuklir Iran ataupun Nuklir Korea Utara juga menjadi perhatian serius bagi pemerintahan George Bush, terutama mengenai permasalah Nuklir Iran.

            Sementara AS di bawah Presiden Barack Obama terlihat mulai menggeser arah kebijakan politik luar negerinya dari unsur-unsur militeristik ke arah isu-isu multilateralisme dalam menjalin hubungan luar negeri AS dengan negara-negara lainnya di dunia. Presiden Obama perlahan-lahan mulai membuka jalinan hubungan baik dengan dunia muslim, peningkatan kerjasama ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya. Amerika Serikat mulai mengembangkan upaya kerjasama di segala bidang dalam menjalin hubungan luar negerinya dengan negara-negara lain setelah sempat sebelumnya mendapatkan cap yang amat buruk di mata internasional akibat agresinya di tahun 2003. Namun, meskipun demikian, yang perlu dicatat adalah, arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Barack Obama bergeser, bukan beralih. Bergeser dalam artian, militeristik bukan lagi menjadi fokus utama dalam arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Isu-isu lain di luar isu tersebut kini juga menjadi fokus dalam hubungan luar negeri AS. Nyatanya Gedung Putih kini tetap concern dengan para militan di Afghanistan. Peralatan tempur AS yang sebelumnya berada di Irak pun sebagian besar sudah dipindahkan ke Afghanistan. Pada bulan Desember 2009, Presiden Barack Obama menyetujui pengiriman tambahan pasukan ke Kabul sebanyak 30.000 pasukan untuk memperkuat basis militer pasukan AS di Afghanistan[1]. Selain itu disebutkan pula bahwa AS kembali mengirimkan pasukan tambahan ke Afghanistan Utara atas peningkatan intensitas serangan Taliban di wilayah tersebut (yang biasanya lebih damai ketimbang di wilayah Selatan) sebanyak 2.500 tentara pada bulan Maret 2010[2]. Angka ini menambah jumlah pasukan AS di Afghanistan yang sebelumnya berjumlah 10.000 pasukan, dan rencananya akan mencapai jumlah 100.000 pasukan pada bulan Juni 2010[3]. AS memproyeksikan kemenangan utuh terhadap Afghanistan dalam melawan pasukan Taliban.

            Kecenderungan arah kebijakan politik luar negeri George W. Bush dengan Barack Obama tersebut sebenarnya merupakan sebuah trend dalam arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat pasca Perang Dingin yang membentuk sebuah pola (pattern). Kecenderungan tersebut dikenal dengan Isolasionis (Unilateralisme) dan Internasionalis (Multilateralisme). Sebelumnya perlu dijelaskan terlebih dahulu apa itu Isolasionis (Unilateralisme) dan Internasionalis (Multilateralisme). Isolasionis merupakan suatu bentuk kecenderungan dalam arah politik luar negeri (khususnya arah politik luar negeri Amerika Serikat) yang cenderung menutup diri dari kerjasama dengan negara lain. Ini kemudian dikenal pula dengan sebutan Unilateralisme. Contohnya misalnya AS pada waktu sebelum Perang Dunia II. Kemudian yang kedua, sifat Internasionalis. Internasionalis merupakan kecenderungan untuk membuka diri dengan negara lain dalam hal kerjasama dan hubungan luar negerinya. Kedua kecenderungan ini jelas memiliki perbedaan dalam menentukan arah politik luar negeri masing-masing. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari instrumen kebijakan yang digunakan, tools/power yang dipakai, sifat yang dominan dari masing-masing kecenderungan tersebut, isu-isu yang ada di dalamnya, serta adanya unsur dari partai yang sedang berkuasa.

 

            Dalam penggunaan instrumen kebijakan luar negeri, kubu Isolasionis biasanya mengedepankan instrumen militer untuk mencapai kepentingannya. Berbeda dengan kubu Internasionalis yang banyak menggunakan aspek-aspek multilateralisme dalam menjalankan kebijakan luar negerinya dengan menggunakan kerjasama ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, maupun isu-isu lingkungan. Dalam penggunaan power pun mereka berbeda. Kubu Isolasionis yang banyak menggunakan instrumen militer menerapkan hard power dalam kebijakan politik luar negerinya. Hard Power yang digunakan bukan hanya dalam bentuk instrumen militer yang digunakan, tetapi juga dalam bentuk ancaman. Misalnya dalam bentuk reward and punishment; stick and carrot, dan lain sebagainya. Sedangkan power yang digunakan dalam kubu Internasionalis (Multilateralisme) biasanya bersifat Soft Power dengan menerapkan aspek-aspek budaya, pendidikan, sosial, dan lain sebagainya di luar aspek-aspek keamanan/militerisme. Sedangkan penggunaan power yang diterapkan pemerintahan Barack Hussein Obama di bawah Menteri Luar Negeri Hillary Rodham Clinton merupakan bentuk penggunaan Smart Power dengan menggabungkan aspek hard power dengan soft powernya. Karakter sifat dominan yang ada pada kubu Isolasionis juga berbeda dengan apa yang ada pada kubu Internasionalis. Kubu Internasionalis lebih mengedepankan aspek-aspek hubungan kerjasama (cooperation) di bidang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, lingkungan, dan lain-lain. Sementara karakter yang dominan dari kubu isolasionis yang menggunakan militerisme sebagai instrumennya kebanyakan berupa hegemoni atau dominasi. Apabila melihat kasus invasi AS di Irak di tahun 2003 nampaknya sifat yang menonjol adalah aspek dominasi. Dalam hal isu sudah jelas, kubu Isolasionis menggunakan isu-isu keamanan. Sementara kubu Internasionalis menggunakan isu-isu yang berada di luar isu keamanan ataupun yang bersifat militeristik sentris. Sedangkan kecenderungan partai yang berada pada kubu Isolasionis dan kubu Internasionalis biasanya merupakan kecenderungan dari Partai Republik dan Partai Demokrat. Partai Demokrat lebih condong bersifat Internasionalis (Multilateralisme), sementara Partai Republik lebih condong bersifat Isolasionis (Unilateralisme). Contohnya adalah Presiden George W. Bush yang berasal dari Partai Republik dan Presiden Barack Obama yang berasal dari Partai Demokrat. Selain itu masih ada lagi contoh di luar George W. Bush dan Barack Obama. Yaitu AS pada saat dipimpin oleh George H. Bush (Bush Sr.) yang juga berasal dari Partai Republik atas serangannya ke Irak pasca Perang Dingin dalam Perang Irak I dan II atau Perang Teluk dan Operasi Teluk Babi. Sedangkan kubu Internasionalis lainnya misalnya AS pada masa di bawah kepemimpinan Presiden Carter dan Bill Clinton, yang mana Presiden Clinton memberikan bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar kepada penduduk di Somalia. Kecenderungan-kecenderungan tersebut memberikan warna dalam arah politik luar negeri Amerika Serikat sehingga membentuk pola dalam setiap kepemerintahan.

            Banyak bentuk-bentuk kerjasama yang dilakukan pemerintahan Barack Obama di luar isu-isu keamanan. Misalnya perbaikan hubungan dengan Dunia Muslim. Presiden Obama maupun Menteri Luar Negeri Hillary Clinton sempat berpidato di salah satu Universitas di Kairo, Mesir sebagai upaya perbaikan hubungan AS dengan dunia muslim. Demikian pula halnya pada bulan April 2010, Obama mengundang tokoh-tokoh muslim dunia dalam konferensi untuk memacu pertumbuhan perekonomian di negara-negara muslim di dunia. Dengan mengundang 250 pengusaha dari 50 negara muslim, Washington menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan konferensi tersebut[4]. Di samping itu, Obama juga menawarkan dan menjanjikan program pertukaran pendidikan serta program-program internship di perusahaan-perusahaan di “Lembah Silikon” terutama kepada negara-negara muslim sebagai bentuk upaya pemulihan hubungan dan kerjasama antara Pemerintah AS dengan Pemerintah di negara-negara Muslim[5].

            Selain itu Amerika Serikat juga mengupayakan kerjasama dalam bentuk Comprehensive Partnership ke beberapa negara. Salah satunya Indonesia. Indonesia dan AS mengupayakan peningkatan dalam jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar ke AS sebanyak tiga kali lipat dari jumlah yang ada sekarang ini (sekitar 7.000 mahasiswa) menjadi tiga kali lipat dalam waktu lima tahun ke depan. AS dan Indonesia juga memfokuskan kerjasamanya pada isu-isu ekonomi. Di antaranya dengan meningkatkan angka perdagangan dan nilai-nilai investasi di Indonesia. Selain itu, ada pula bantuan military to military bagi pemerintah Indonesia yang mencapai $ 22.000.000. Ada pula kerjasama di bidang pelestarian satwa, yaitu dengan pelestarian badak Indonesia. Di bidang kebudayaan pun, di AS terdapat lebih dari 100 kelompok karawitan, baik merupakan kelompok yang terdiri dari orang-orang Indonesia, maupun campuran antara orang Indonesia dengan orang AS. Baik berupa karawitan Jawa, maupun karawitan Bali. Demikian pula halnya dengan kebudayaan Wayang, yang terdapat di hampir masing-masing state di Amerika Serikat. Angklung sendiri pun sudah masuk ke department of state AS dan juga di beberapa festival budaya di AS, dan mendapatkan sambutan yang sangat baik dari warga AS sendiri. Bahkan juga sempat diadakan pameran koleksi batik yang dimiliki oleh ibunda Presiden Obama, Ann Dunham,  yang juga mendapatkan sambutan yang luar biasa[6].


[1]    Pengiriman Pasukan Tambahan AS ke Afghanistan Telan Biaya Rp 283 Trilliun. Sinar Indonesia Baru. http://hariansib.com/?p=101444. Dipostingkan oleh redaksi pada 3 Desember 2009.

[2]    AS Kirim 2.500 Tentara Tambahan ke Afghanistan Utara. ANTARA News. http://www.antara.co.id/berita/1269052297/as-kirim-2500-tentara-tambahan-ke-afghanistan-utara. Dipostingkan oleh redaksi pada 20 Maret 2010.

 

[3]    Pengiriman Pasukan Tambahan AS ke Afghanistan Telan Biaya Rp 283 Trilliun. Sinar Indonesia Baru. http://hariansib.com/?p=101444.

[4]             Presiden Obama Akan Jamu Tokoh Muslim Dunia. http://international.okezone.com/read/2010/04/22/18/325275/presiden-obama-akan-jamu-tokoh-muslim-dunia. Dipostingkan oleh redaksi pada 22 April 2010.

 

[5]    Obama Tawarkan Pendekatan Baru bagi Dunia Muslim. Tempo interaktif internasional. http://www.tempointeraktif.com/hg/amerika/2010/04/27/brk,20100427-243651,id.html. Dipostingkan oleh redaksi pada 27 April 2010.

 

[6]    “Kunjungan Presiden Obama untuk Mendeklarasikan Comprehensive Partnership”; dan “RI-AS akan Fokus Pada Peningkatan Kerjasama Ekonomi”. Tabloid Diplomasi: Media Komunikasi dan Interaksi. No. 29 Tahun III. Tgl. 15 Maret-14 April 2010.

CV�r’����a dan negara-negara yang tergabung dalam Forum Pasifik Selatan dan Persemakmuran tetap menekankan kembalinya demokrasi di Fiji serta mendorong rezim junta militer di Fiji untuk melaksanakan pemilu yang demokratis.

 

This entry was posted in Kontempo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s